Mari Tepuk Tangan! Libur Usai, Rupiah Langsung Jadi Raja Asia Hari Ini

5 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 March 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang negara-negara Asia bergerak pada zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (25/3/2026). Seiring dengan melemahnya dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.20 WIB, dari sebelas mata uang Asia, tujuh mata uang mengalami penguatan dan empat mata uang melemah terhadap greenback.

Penguatan paling besar dipimpin rupiah yang naik 0,47% ke posisi Rp16.895/US$. Perlu dicatat, hari ini merupakan perdagangan perdana rupiah setelah libur panjang Lebaran. Sebelumnya, pada perdagangan terakhir Selasa (17/3/2026), rupiah ditutup menguat 0,06% di level Rp16.975/US$.

Selanjutnya, dolar Taiwan menguat 0,15% ke TWD 31,87/US$, disusul rupee India yang naik 0,13% ke INR 93,89/US$ serta won Korea Selatan yang menguat 0,12% ke KRW 1.494,6/US$.

Penguatan juga terlihat pada dong Vietnam yang naik 0,08% ke VND 26.329/US$, ringgit Malaysia yang menguat 0,08% ke MYR 3,95/US$, serta yuan China yang naik 0,07% ke CNY 6,88/US$.

Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia ikut menguat. Baht Thailand menjadi yang paling tertekan setelah turun 0,12% ke THB 32,56/US$. Peso Filipina melemah 0,08% ke PHP 59,92/US$, sementara yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama turun 0,04%, masing-masing ke JPY 158,73/US$ dan SGD 1,27/US$.

Arah pergerakan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang pada waktu yang sama turun 0,18% ke level 99,253.

Dolar AS masih berada di bawah tekanan seiring munculnya laporan bahwa AS tengah mengejar jalur perundingan dengan Iran untuk mengakhiri konflik.

Presiden AS Donald Trump menyebut Iran telah menawarkan "gesture of goodwill" dalam negosiasi yang berkaitan dengan kelancaran arus energi melalui Selat Hormuz. Media Israel juga melaporkan Washington tengah mendorong gencatan senjata selama satu bulan untuk membuka ruang pembicaraan.

Sementara laporan lainnya menyebut AS mengirim proposal berisi sejumlah poin kepada Iran guna menyelesaikan konflik.

Meski demikian, pasar masih bersikap hati-hati. Teheran dilaporkan membantah tengah melakukan negosiasi dengan AS, sementara sejumlah negara Teluk memberi sinyal kesiapan untuk bergabung dalam perang melawan Iran. Ketidakpastian ini membuat investor tetap menimbang risiko konflik, meski sentimen mereda sementara karena harapan de-eskalasi.

Harga minyak yang ikut melemah akibat perkembangan tersebut memberi sedikit ruang napas bagi pasar. Turunnya harga energi meredakan kekhawatiran bahwa lonjakan biaya energi akan kembali memicu inflasi global dan mendorong kenaikan suku bunga.

Di sisi lain, pejabat The Fed Michael Barr menegaskan bank sentral AS masih berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi untuk beberapa waktu demi mengendalikan inflasi. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa arah kebijakan moneter AS tetap akan menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar AS dan mata uang global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |