Korban Baru Perang Iran: Film Bollywood hingga Wine Italia

2 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

25 March 2026 14:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Gelombang kejut dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran langsung menghantam ekonomi global.

Lonjakan harga energi sejak serangan ke Teheran pada 28 Februari bergerak cepat menekan biaya produksi, mengganggu konsumsi, dan mengubah arah kebijakan bank sentral dalam waktu singkat.

Harga minyak, gas, hingga pupuk naik serempak, memaksa pelaku usaha dan rumah tangga menyesuaikan pengeluaran.

Harga komoditas energi dan bahan baku melonjak dalam hitungan hari. Perubahan ini segera terasa di level operasional. Pabrik menghadapi kenaikan biaya input, petani melihat ongkos produksi membengkak, sementara sektor logistik menanggung beban bahan bakar yang lebih mahal. Tekanan tersebut mengalir ke harga akhir barang dan membuka ruang kenaikan inflasi di berbagai negara.

Namun yang belum sering mendapat sorotan, dampaknya yang meluas ke sektor yang sebelumnya tidak berkaitan langsung dengan energi.

Di negeri berjuta dewa, Industri film India menunda perilisan karena pasar Timur Tengah terganggu. Film "Toxic: A Fairy Tale for Grown-ups" menggeser jadwal tayang dari Maret ke Juni untuk menjaga potensi penonton di kawasan Teluk. Libur Idulfitri pada 19-22 Maret pun berlalu tanpa film besar, situasi yang terakhir terjadi pada 2020.

Di Italia selatan, petani di Calabria menghadapi lonjakan harga solar hingga 60%. Kenaikan biaya pupuk dan pestisida terjadi dalam periode yang sama. Tekanan biaya muncul saat permintaan wine global sedang melemah. Produsen memilih menahan harga jual karena risiko penurunan permintaan.

Gangguan energi juga menjalar ke aktivitas sehari-hari. Di Pakistan, penonton liga kriket diminta menyaksikan pertandingan dari rumah demi menghemat bahan bakar. Di Inggris, pelaku industri perhotelan kembali menghadapi lonjakan biaya listrik yang mengingatkan pada krisis energi beberapa tahun lalu.

Tekanan harga energi mulai terasa di rumah tangga. Di Amerika Serikat, kenaikan harga bensin mengurangi dampak positif dari pengembalian pajak. Ekonom memperkirakan kenaikan 20% harga bahan bakar dapat menambah pengeluaran sekitar US$6 miliar dalam satu bulan. Ruang konsumsi pun menyempit.

Situasi ini mendorong bank sentral mengubah sikap. Bank of England menyatakan kesiapan merespons lonjakan inflasi. European Central Bank diperkirakan akan menaikkan suku bunga beberapa kali tahun ini. Di Amerika Serikat, Federal Reserve menahan ekspektasi pelonggaran kebijakan karena tekanan harga belum mereda.

Risiko terbesar berada di jalur distribusi energi global. Strait of Hormuz menjadi titik krusial karena sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati wilayah tersebut.

Model Bloomberg Economics memperkirakan harga minyak dapat mendekati US$110 per barel jika gangguan berlangsung dalam beberapa minggu. Jika konflik bertahan lebih lama, harga berpotensi mendekati US$170 per barel.

Kenaikan tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto di Inggris dan kawasan euro diperkirakan turun sekitar 0,5 poin persentase, sementara inflasi naik sekitar 1 poin. Di Amerika Serikat, tekanan terlihat pada harga dengan inflasi sekitar 0,7 poin di atas jalur sebelum konflik.

Negara berkembang menghadapi tekanan lebih besar. India, yang mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyaknya, mulai merasakan gangguan pasokan gas dan kenaikan biaya operasional. Ruang fiskal yang terbatas membuat pemerintah sulit memperluas subsidi tanpa menambah beban defisit. Risiko serupa dapat muncul di negara lain, termasuk Indonesia.

Di sektor industri, potensi gangguan rantai pasok mulai diperhitungkan. Sekitar 25% aluminium global melintasi Selat Hormuz. Hambatan pada jalur ini akan mengganggu produksi dan distribusi. Di sektor pertanian, petani AS menghadapi lonjakan biaya pupuk dan bahan bakar menjelang musim tanam, membuka risiko penurunan produksi dan kenaikan harga pangan.

Organisasi Perdagangan Dunia memperingatkan bahwa proyeksi pertumbuhan perdagangan global sebesar 1,9% tahun ini dapat terganggu jika harga energi bertahan tinggi. Biaya transportasi dan logistik diperkirakan meningkat, menekan perdagangan barang dan jasa.

Melansir dari Bloomberg, pasar saat ini menunggu arah konflik. Penundaan tenggat pembukaan kembali Selat Hormuz sempat menurunkan harga minyak dan memicu pemulihan pasar keuangan. Namun tekanan biaya masih bertahan dan terus mengalir ke berbagai sektor ekonomi global.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |