Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan bocoran terkait rencana kebijakan penerapan work from home (WFH) yang akan diterapkan dalam waktu dekat. Menurut Tito, rencana tersebut sudah dibahas dalam rapat dengan menteri terkait dan menunggu persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto.
Rapat itu dilakukan secara virtual, Selasa (24/3/2026) malam dan dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Agendanya membahas rencana kebijakan terkait penyesuaian sektor energi serta beberapa rencana kebijakan stimulus ekonomi.
Tito menjelaskan, dalam rapat itu juga membahas kebijakan WFH bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk penghematan bahan bakar minyak (BBM), pascalonjakan harga minyak global. Meskipun begitu, dia masih belum mau membeberkan detail terkait rencana itu.
"Sudah rapat kemarin, rapat hampir tiga atau empat jam. Ya, tapi kita sepakat untuk satu suara berarti yang menyampaikan. Ya saya nggak tahu siapa di istana. Apakah Pak Menko PMK (Pratikno), apakah Menko Ekonomi (Airlangga Hartarto) ataukah nanti oleh Pak Mensesneg (Prasetyo Hadi). Jadi, kita hanya memberikan masukan-masukan saja, tapi saya nggak berwenang untuk menyampaikan ke publik," kata Tito di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Foto: Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. (Emir Yanwardhana/CNBC Indonesia)
Tito mengatakan salah satu skema yang dipertimbangkan adalah WFH selama satu hari dalam seminggu. Meskipun dia belum mau membeberkan kapan rencana itu akan diterapkan.
"Yang saya dengar itu adalah satu hari selama seminggu. Tapi hari apa yang akan diambil, biar nanti yang putuskan. Nanti kan hasil rapat kemarin akan dilaporkan ke presiden," katanya.
"Setelah ada arahan bapak presiden, baru nanti diumumkan resmi. Sabar-sabar aja," lanjutnya.
Lebih lanjut, dari pandangan eks Kapolri ini, penerapan kebijakan WFH satu hari ini tidak akan mengganggu kerja penyelenggaraan pemerintah. Sebab, ini bukan pengalaman pertama lantaran saat pandemi Covid-19 telah dijalankan kebijakan bekerja di kantor hanya 25% untuk ASN.
Begitu juga kerja di pemerintahan daerah juga tidak akan menjadi kendala, meskipun dibutuhkan penjelasan kepada beberapa kepala daerah terkait hal esensial yang tidak boleh terganggu kebijakan ini.
"No problem. Ya, pemda juga ada banyak pengalaman. Cuma mungkin karena daerah ini ada kepala daerah baru, nanti saya akan kasih penjelasan pada mereka. Hal-hal yang esensial seperti angkutan, kemudian yang melayani, emergency, rumah sakit, kebersihan, harus tetap jalan," tutur Tito.
(miq/miq)
Addsource on Google

















































