Wamentan Ingin Industri Gula RI Bangkit dari Kubur, Begini Caranya

5 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menargetkan kebangkitan produksi gula nasional dengan mengerek kembali tingkat rendemen tebu seperti era kolonial. Pada masa kolonial, Indonesia sempat jadi produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba.

Pada masa lalu rendemen gula Indonesia bahkan bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini. Saat ini rendemen tebu hanya 7-8%, sedangkan negara tetangga seperti Thailand sudah bisa mencapai 11-12%.

"Dulu zaman Belanda rendemennya itu bisa tiga kali lipat dibandingkan yang sekarang. Dulu tinggi sekali, kenapa sekarang turun naik, itu kita mesti perhatikan di situ," kata Wamentan Sudaryono saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, rendahnya rendemen menjadi akar persoalan utama sektor gula saat ini. Rendemen sendiri menentukan seberapa banyak gula yang dihasilkan dari tebu yang digiling. Semakin rendah rendemen, semakin kecil pula hasil gula yang didapat petani, meski volume tebu besar.

"Yang menjadi persoalan utama itu adalah, kalau berdasarkan penelitian, berdasarkan riset yang kita lakukan, itu adalah rendemennya rendah," ucap dia.

Menurutnya, kondisi ini membuat produksi gula nasional belum optimal, sehingga Indonesia masih harus bergantung pada impor. Padahal, di sisi lain, peluang untuk meningkatkan produksi dalam negeri masih sangat besar.

"Nah sebetulnya kita di posisi sekarang itu kan gulanya kurang. Jadi kita masih ada impor gula rafinasi. Artinya masih kurang. Kalau kurang, itu berarti artinya di dalam negeri ini masih ada potensi untuk kita produksi sendiri," jelasnya.

Sudaryono menegaskan, kunci untuk mengembalikan kejayaan gula nasional ada pada peningkatan produktivitas, terutama melalui perbaikan rendemen dan perluasan lahan tebu.

"Berarti kan rendemennya harus tinggi, atau kita cetak lahan baru," kata dia.

Untuk meningkatkan rendemen, Kementerian Pertanian mendorong penggunaan bibit unggul dan peremajaan tanaman tebu melalui program bongkar ratoon. Ia menyebut kualitas benih menjadi faktor krusial yang bisa langsung mendongkrak produksi.

"Mau tidak mau, bukan hanya di gula, kita ngomongin semua varietas tanaman itu memang bibit benih yang bagus itu ada pengaruhnya 20%-30%," jelasnya.

"Jadi dengan perlakuan yang sama, asal benihnya bagus, mau padi, jagung, tebu, apapun itu asal benar, terstandar baik, termasuk kelapa sawit juga, maka produksinya itu bisa naik 20%-30%," lanjut Sudaryono.

Pemerintah pun telah mengalokasikan anggaran besar untuk mendukung perbaikan kualitas benih tersebut. Total anggaran mencapai Rp9,9 triliun yang disalurkan secara bertahap dalam tiga tahun.

"Bayangkan, hanya dari komponen kualitas benih. Sehingga, Presiden Prabowo menganggarkan, memberi kepada Kementerian Pertanian, ada anggaran Rp9,9 triliun yang terbagi dalam tiga tahun. Tahun lalu Rp2,5 triliun, tahun ini Rp5,5 triliun, baru sisanya tahun depan," paparnya.

Selain benih, pemerintah juga berencana membuka lahan baru untuk tebu, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

"Yang kedua, ya mau nggak mau kita cari lahan baru, yang cocok untuk tebu, tanpa harus mengganggu ekologi, tanpa babat hutan dan seterusnya," kata dia.

Sudaryono menegaskan, jika rendemen bisa ditingkatkan kembali mendekati level masa lalu, Indonesia tidak hanya mampu swasembada gula, tetapi juga berpotensi menurunkan harga.

"Kalau Indonesia itu bisa meningkatkan rendemennya tinggi, kembali ke zaman Belanda saja misalnya, itu bukan hanya kita ini swasembada gula. Bahkan harga gulanya bisa kita turunkan," sebutnya.

Ia menekankan, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana meningkatkan rendemen di tengah keterbatasan lahan petani.

"Maka mau nggak mau yang harus kita lakukan adalah meningkatkan rendemen. Rendemen kita bisa dikatakan memang relatif rendah, dan kita harus tingkatkan. Kita pernah di posisi yang jauh lebih tinggi, 3 kali lipat dari yang sekarang," pungkas Sudaryono.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |