Merdeka Pengan! Negara Ini Tak Butuh Bantuan China- Amerika

4 hours ago 8

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

14 April 2026 18:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketahanan pangan global kembali jadi sorotan. Data terbaru dari studi jurnal Nature Food menunjukkan hanya ada satu negara yang benar-benar mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.

Guyana menjadi satu-satunya negara yang mampu memproduksi seluruh kebutuhan pangan domestiknya tanpa bergantung pada impor.

Analisis ini terdiri dari beberapa kategori termasuk makanan karbohidrat pokok, buah-buahan, sayuran, produk susu, daging, ikan, dan kacang-kacangan.

Bukan Sekadar Kalori, Tapi Nutrisi Lengkap

Tujuh kategori pangan yang digunakan dalam analisis ini mengcover kelengkapan nutrisi, bukan hanya jumlah kalori harian. Artinya, suatu negara dianggap "mandiri pangan" jika mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi tersebut dari produksi dalam negeri.

Pertanian di Guyana. (Dok. Ministry of Agriculture Guyana)Foto: Pertanian di Guyana. (Dok. Ministry of Agriculture Guyana)
Pertanian di Guyana. (Dok. Ministry of Agriculture Guyana)

Dalam konteks ini, Guyana menjadi satu-satunya negara yang mampu mencukupi seluruh tujuh kelompok pangan tersebut. Bahkan, negara kecil di Amerika Selatan ini memiliki surplus pada beberapa kategori seperti karbohidrat dan buah.

Di bawah peringkat Guyana, terdapat beberapa negara yang hampir mandiri pangan:

Sementara itu Indonesia berada di kategori menengah, yakni hanya mampu memenuhi 4 dari 7 kelompok pangan secara mandiri.

Berdasarkan data tersebut, negara kaya ternyata tidak selalu berarti mandiri pangan. Negara maju seperti Kanada dan Amerika Serikat misalnya, hanya mampu memenuhi sekitar 4 dari 7 kelompok pangan. Meski unggul dalam produksi daging, susu, dan biji-bijian, keduanya masih sangat bergantung pada impor, terutama untuk buah dan sayur.

Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor alam punya peran dominan. Negara-negara di wilayah utara menghadapi musim tanam yang pendek dan iklim dingin, sehingga produksi pangan segar jadi terbatas. Bahkan dengan teknologi pertanian yang maju sekalipun, kondisi geografis tetap menjadi batas yang sulit ditembus.

Hal yang sama juga terlihat di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kemandirian pangan terendah. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan sumber daya alam, terutama air.

Kawasan ini menampung sekitar 6% populasi dunia, namun hanya memiliki kurang dari 2% sumber air terbarukan global, sehingga ekspansi pertanian sangat terbatas.

Selain itu, ada juga faktor struktural lain seperti produksi ikan global. Saat ini, sekitar 91% produksi akuakultur dunia terkonsentrasi di Asia, sehingga keputusan impor menjadi lebih efektif dan efisien dari pada produksi secara mandiri.

Teknologi dan Kebijakan Jadi Kunci Ketahanan Pangan

Namun di tengah keterbatasan tersebut, perkembangan teknologi pertanian, seperti vertical farming, greenhouse, hingga irigasi modern, seharusnya membuka peluang baru bagi negara-negara untuk meningkatkan kemandirian pangan.

Artinya, ketahanan pangan saat ini tidak lagi semata ditentukan oleh faktor alam, tetapi juga oleh pilihan kebijakan dan strategi pembangunan.

Di titik ini, faktor politik menjadi penentu arah. Pemerintah dapat mendorong investasi pada inovasi pertanian dan diversifikasi pangan untuk memperkuat kemandirian, atau tetap mengandalkan perdagangan global yang dinilai lebih efisien dan praktis.

Pada akhirnya, ketahanan pangan bukan semata persoalan kemampuan produksi, melainkan juga pilihan kebijakan.

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |