Semua Mata Uang Keok Dihantam Dolar, Aneh Jika Rupiah Perkasa Sendiri

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama bulan ini melemah hingga betah bertengger di level atas Rp 17.000/US$.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada 1 April menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar diperdagangkan antar bank rata-rata di level Rp 17.002.

Sejak saat, Jisdor tak mencatat mata uang garuda mampu bergerak di level bawah Rp 17.000, bahkan terus bergerak naik hingga Rp 17.122/US$ pada 13 April 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, kondisi kurs rupiah itu tak terlepas dari sentimen negatif pelaku pasar keuangan terhadap perkembangan peperangan di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat nilai tukar dolar terhadap berbagai mata uang dunia menguat, tak terkecuali rupiah.

Konflik itu memunculkan sentimen risk off atau menghindari faktor risiko di tengah investor global, sehingga mereka melepas investasinya di instrumen portofolio negara-negara berkembang, termasuk Indonesia untuk membeli surat berharga AS beserta dolar. Akibatnya indeks dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia (DXY) menguat.

"Makanya, agak aneh juga kalau dalam situasi semua negara mata uangnya melemah terhadap US Dollar, tiba-tiba rupiah menguat. Itu anomali karena gerakannya semuanya yang melemah," ucap Erwin dalam agenda Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, dikutip pada Selasa (14/4/2026).

Saat pembukaan perdagangan pasar keuangan di Indonesia kemarin, dan rupiah langsung tertekan ke level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09% dibanding perdagangan akhir pekan lalu, DXY memang tengah mengalami penguatan hebat, hingga ke level 99,01 berdasarkan data Revinitif pukul 09.00 WIB. DXY terpantau menguat 0,37% saat itu.

Akibatnya, bukan hanya rupiah yang tertekan melawan dolar AS. Sejumlah mata uang negara-negara berkembang yang memiliki kapasitas ekonomi setara Indonesia juga mengalami pelemahan mata uang, bahkan lebih buruk dibanding Indonesia.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75. Adapun 7 negara lain seperti India rupee angka indeksnya di level 8,92, Filipina peso 10,55, Thailand bath 12,40, Meksiko peso 13,20, Brazil real 13,69, Argentina peso 14,50, dan Afrika Selatan rand 16,34.

Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah betah di level Rp 17.100 per dolar AS. BI mencatat, depresiasi hingga pekan dari sejak awal tahun hanya 2,91%, sedangkan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.

"Ya kita melemah, tapi kalau bisa kita melemahnya jangan yang paling gede. Kita melemahnya terukur. Tentunya kami berharap kita semua lewat sinergi kolaborasi dengan otoritas dan juga bapak ibu sebagai pelaku pasar, pelaku ekonomi kita berada pada bagian dari mengupayakan agar rupiah itu bisa terkelola volatilitasnya," ucap Erwin.

Kepala Ekonom BCA David Sumual juga memiliki pandangan serupa dengan Erwin. Ia menekankan, perdagangan mata uang antar negara, khususnya terhadap dolar AS memang tidak bisa satu arah. Misalnya, ketika dolar menguat, kurs rupiah ikut menguat. Maka, ketika dolar menguat rupiah kecenderungannya terdepresiasi, begitu juga sebaliknya.

"Tidak bisa misalnya kondisi dolar menguat 3%, kita menguat juga 10% misalnya. Enggak bisa seperti itu. Memang kelihatannya kalau kita lihat seperti bermain surfing, gelombangnya arahnya seperti apa, ya kita bermanuver dengan gelombang yang terjadi," ucap David.

Oleh sebab itu, David menilai, untuk mengurangi risiko tekanan terhadap pergerakan kurs dolar, bank sentral sudah sewajarnya mengurangi ketegantungan transaksi Indonesia dengan dolar di pasar global, baik pasar keuangan maupun perdagangan internasional. Caranya ialah dengan mempertebal kesepakatan swap dengan mata uang negara lain.

"Kita sudah ada dengan Singapura, Tiongkok, Jepang, Australia, Korea Selatan, itu jumlahnya sekitar US$ 90-100 billion, tolong koreksi jika saya kelir. Itu semacam asuransi juga atau secondary buffer. Mungkin kita masih traumatik kondisi krisis 1998, kita kan tidak ada perjanjian seperti ini, perlu disampaikan juga posisi devisa ada secondary buffer yang US$ 100 miliar, ini bisa menjaga volatilitas kalau dibutuhkan," paparnya.

Cara kedua, ia menilai sudah benar BI melakukan pengetatan syarat kebutuhan transaksi tunai dolar di alam negeri untuk transaksi tanpa underlying di pasar spot.

"Itu batas keharusan adanya underlying untuk transaksi dinaikkan ke US$ 10 juta. Ini untuk mengurangi tekanan di pasar spot. Karena kebanyakan transaksi kita itu masih terkonsentrasi di spot market. Jadi kita perlu spreading, perlu kita didistribusikan ke pasar NDF, sehingga tidak menumpuk di pasar spot," papar David.

"Kebutuhan yang baru 2-3 bulan lagi sudah terjadi sekarang. kita harus aktifkan kembali transaksi yang sifatnya hedging ke depannya," tegasnya.

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |