AS-Iran Berpeluang Damai, Harga Minyak Longsor ke Bawah US$100

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Selasa pagi (14/4/2026), setelah reli tajam sehari sebelumnya. Pasar mulai merespons sinyal bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih terbuka, sehingga kekhawatiran gangguan pasokan sedikit mereda.

Merujuk data Refinitiv pada pukul 08.35 WIB, harga Brent berada di US$97,34 per barel, turun 2,03% dibanding penutupan Senin di US$99,36 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$96,80 per barel, melemah 2,30% dari posisi sebelumnya US$99,08 per barel.

Melansir Reuters, penurunan ini terjadi sehari setelah pasar sempat melonjak kuat. Pada Senin, Brent ditutup naik lebih dari 4%, sedangkan WTI menguat hampir 3%. Lonjakan itu dipicu langkah militer AS yang memulai blokade terhadap pelabuhan Iran, termasuk jalur strategis Selat Hormuz.

Investor mulai menimbang kemungkinan negosiasi baru setelah sejumlah sumber menyebut komunikasi Washington-Teheran masih berlangsung.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengatakan Iran "ingin membuat kesepakatan" pada Senin, 13 April 2026 waktu Amerika Serikat . Nada tersebut cukup menenangkan pasar yang sebelumnya bersiap menghadapi skenario terburuk.

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena merupakan jalur vital energi global. Gangguan di kawasan itu dapat menghambat aliran minyak dari Timur Tengah menuju Asia, Eropa, dan Amerika. Data ANZ memperkirakan sekitar 10 juta barel per hari pasokan crude telah terdampak secara efektif. Jika blokade berlangsung lama, tambahan 3-4 juta barel per hari pengiriman minyak berisiko tertahan.

Meski harga turun pagi ini, level minyak masih jauh lebih tinggi dibanding pekan lalu. Pada 8 April, Brent sempat berada di US$94,75 per barel dan kini masih bertahan dekat US$97. Artinya, premi risiko geopolitik belum benar-benar hilang dari pasar.

Di sisi lain, faktor fundamental juga ikut berubah. OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan global kuartal II sebesar 500 ribu barel per hari dalam laporan bulanan terbarunya. Revisi ini memberi sinyal bahwa konsumsi energi global tidak sekuat perkiraan sebelumnya.

Lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan IEA juga meminta negara-negara dunia tidak menimbun pasokan energi atau menerapkan larangan ekspor. Jika aksi panik itu terjadi, tekanan harga bisa datang lagi dalam waktu singkat.

CNBC Indonesia

(emb/emb) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |