Pakar: Masalah Pendidikan RI Bukan Sekolahnya, Tapi Cara Pandang Orang

4 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Masalah pendidikan di Indonesia bukan semata soal sekolah atau akses belajar. Justru, cara pandang masyarakat terhadap makna belajar dinilai masih jadi persoalan utama.

Banyak orang masih menganggap pendidikan identik dengan sekolah formal. Padahal, proses belajar sebenarnya jauh lebih luas dan bisa terjadi di luar ruang kelas.

Pendidik dan inisiator gerakan Semua Murid Semua Guru, Najelaa Shihab menilai, cara pandang ini perlu diubah agar pendidikan bisa berkembang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menjelaskan, selama ini pendidikan kerap disamakan dengan capaian akademik di sekolah. Padahal, berbagai komunitas dan inisiatif di luar sistem formal justru berperan penting dalam membentuk keterampilan dan karakter.

"Upaya yang dilakukan bukan sekadar capaian akademik, melainkan perubahan perilaku dan kontribusi nyata terhadap ekosistem yang lebih luas," ujarnya dalam konferensi pers Belajarraya Jakarta 2026 di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Seiring perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja, kebutuhan keterampilan juga ikut berubah. Proses belajar tidak lagi terbatas di bangku sekolah, melainkan juga melalui komunitas, platform digital, hingga kolaborasi lintas sektor.

Hal ini juga diakui pemerintah. Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Rizki Ameliah menegaskan, pendidikan saat ini sangat dinamis dan tidak bisa lagi ditangani satu pihak saja.

"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, kita perlu bergerak bersama dengan komunitas, swasta, dan akademisi," katanya.

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari kesenjangan akses belajar, kualitas pendidikan yang belum merata, hingga kebutuhan skill baru di era digital.

Dalam praktiknya, gerakan berbasis komunitas mulai menunjukkan peran besar. Jaringan Semua Murid Semua Guru misalnya, kini telah melibatkan lebih dari 1.000 komunitas pendidikan di berbagai daerah yang mendorong inovasi belajar di luar sistem formal.

Ini pun menunjukkan pendidikan tidak lagi terpusat di kota besar atau institusi formal saja, melainkan mulai tumbuh secara lebih luas dan inklusif di berbagai wilayah. Untuk mendorong perubahan cara pandang tersebut, berbagai pihak kini mulai memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui ruang-ruang pertemuan publik.

Salah satunya lewat festival pendidikan Belajaraya Jakarta 2026 yang akan digelar pada 2 Mei mendatang, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Acara ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara pendidik, komunitas, pemerintah, hingga sektor swasta untuk membahas masa depan pendidikan Indonesia.

Lewat pendekatan ini, harapannya pendidikan tidak lagi dilihat sekadar sebagai aktivitas di ruang kelas, tetapi sebagai proses belajar sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak.

Read Entire Article
Photo View |