Jakarta, CNBC Indonesia - Armada bantuan kemanusiaan menuju Gaza dari misi Global Sumud Flotilla dihentikan secara paksa oleh militer Israel jauh dari wilayah konflik, memicu tuduhan pelanggaran hukum internasional.
Kapal-kapal mereka dicegat oleh pasukan Israel menggunakan drone, teknologi pengacau komunikasi, serta tim bersenjata yang melakukan penyerbuan di tengah laut.
"Perahu-perahu kami didekati oleh kapal cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai 'Israel', menyorotkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, serta memerintahkan para peserta untuk maju ke bagian depan kapal dan berlutut dengan tangan di atas kepala," kata pihak flotilla dalam pernyataan pada Kamis (30/4/2026), dilansir Al Jazeera.
Mereka menegaskan bahwa tindakan tersebut terjadi di perairan internasional. "Kapal militer Israel secara ilegal mengepung flotilla di perairan internasional dan mengancam penculikan serta kekerasan," tulis mereka di media sosial.
Pihak flotilla juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan sebagian armada telah terputus. "Komunikasi dengan 11 kapal telah hilang dan media Israel mengklaim tujuh kapal telah dicegat. Pemerintah harus bertindak sekarang untuk melindungi flotilla."
Media Israel, mengutip sumber militer, melaporkan bahwa Israel telah mulai mengambil alih kapal-kapal bantuan yang menuju Gaza. Disebutkan, tujuh dari total 58 kapal flotilla telah dikuasai di dekat Pulau Kreta, Yunani.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, membenarkan operasi tersebut. Dalam unggahannya di media sosial, ia mengatakan flotilla itu "dihentikan sebelum mencapai wilayah kami" dan menyebut tentara Israel bertindak dengan "ketegasan menghadapi sekelompok agitator pencari perhatian yang delusional."
Namun, pihak flotilla membantah keras narasi tersebut. Juru bicara mereka, Gur Tsabar, menyebut tindakan Israel sebagai "serangan langsung terhadap kapal sipil tak bersenjata di perairan internasional."
Berbicara kepada Al Jazeera, Tsabar menekankan bahwa operasi militer itu terjadi sangat jauh dari wilayah Israel. "Serangan laut ini terjadi ratusan mil dari Israel, dengan flotilla dikepung dan diancam dengan senjata."
Ia menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional. "Ini ilegal menurut hukum internasional. Israel tidak memiliki yurisdiksi di perairan ini. Naik ke kapal-kapal ini setara dengan penahanan ilegal, bahkan berpotensi penculikan di laut lepas," ujarnya.
Tsabar juga mendesak komunitas internasional untuk bertindak. "Sangat penting bagi semua pemerintah untuk bertindak sekarang. Setiap pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi lebih dari 400 warga sipil di atas kapal dan menegakkan hukum internasional. Diam dalam momen ini adalah bentuk keterlibatan penuh."
Kesaksian serupa datang dari seorang penumpang flotilla, Tariq Ra'ouf. Ia menggambarkan bagaimana kapal-kapal mereka dikepung oleh armada militer Israel.
"Dari kapal-kapal militer itu, sejumlah perahu militer kecil mulai mengepung banyak kapal kami. Drone mengelilingi kami dan menyorotkan cahaya. Kami juga menerima pesan melalui radio dari militer Israel yang mengatakan kami melanggar hukum internasional dan harus berhenti," katanya.
Ra'ouf menambahkan, operasi tersebut berlangsung selama beberapa jam saat flotilla sedang menuju Kreta. "Kami kehilangan komunikasi dengan banyak kapal kami," ujarnya.
Ia juga menuding adanya gangguan komunikasi yang disengaja. Menurutnya, militer Israel memutar musik di saluran radio untuk mengacaukan komunikasi sebagai "semacam taktik perang psikologis."
"Kami berada di perairan internasional, jadi ini benar-benar langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Israel, karena kami tidak berada di dekat Gaza," tambahnya.
Menurut data, flotilla berada sekitar 600 mil laut dari Gaza (sekitar 1.111 km). Sebagai perbandingan, intersepsi terjauh sebelumnya yang dilakukan Israel terhadap armada bantuan hanya sekitar 72 mil laut dari wilayah Palestina.
Armada bantuan ini terdiri dari lebih dari 50 kapal yang membawa aktivis dari berbagai negara. Mereka berlayar dari Italia pada Minggu menuju Jalur Gaza dalam apa yang disebut penyelenggara sebagai misi bantuan kemanusiaan terbesar ke wilayah yang dilanda perang tersebut.
Ini bukan pertama kalinya flotilla semacam itu dicegat. Pada Oktober tahun lalu, militer Israel juga menghentikan sekitar 40 kapal dari Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan ke Gaza, dan menangkap lebih dari 450 peserta.
Di antara mereka terdapat tokoh-tokoh internasional seperti cucu Nelson Mandela, aktivis Swedia Greta Thunberg, serta anggota Parlemen Eropa Rima Hassan.
Setelah ditahan dan dibawa ke Israel, sejumlah aktivis mengaku mengalami kekerasan fisik dan psikologis selama dalam tahanan. Israel kemudian mendeportasi para kru dan aktivis tersebut.
(luc/luc)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470425/original/077219800_1768205094-IMG_3373_1_.jpeg)