Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kerap diasumsikan menjadi pemicu lonjakan permintaan kendaraan listrik. Namun kondisi tersebut belum tentu terjadi secara langsung di pasar otomotif Indonesia.
Meski ada tren kenaikan penjualan kendaraan listrik, belum bisa disimpulkan bahwa hal itu disebabkan oleh kenaikan BBM.
"Tadi kalau kita lihat grafik ya ada kenaikan yang cukup signifikan di kuartal satu, tapi kita masih belum bisa mengasumsikan itu dikarenakan dinamika BBM," ujar Head of PR & Government Relations BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, dikutip Kamis (23/4/2026).
Peningkatan minat terhadap kendaraan listrik sudah terjadi secara bertahap bahkan sebelum adanya gejolak harga BBM. Dengan kata lain, tren ini lebih bersifat struktural dibanding situasional.
"Secara tren juga memang tidak hanya dalam waktu case kemarin saja adanya permasalahan kelangkaan bahan bakar, memang EV sendiri sudah naik," katanya.
Dalam pandangan BYD, pertumbuhan kendaraan listrik didorong oleh berbagai faktor, mulai dari kesadaran lingkungan hingga perkembangan teknologi yang semakin matang. Oleh karena itu, perusahaan memilih untuk tidak berspekulasi terhadap faktor tunggal seperti BBM.
"Jadi kita tidak mau berspekulasi bahwa ini karena ada dinamika kelangkaan bahan bakar," ujar Luther.
Di sisi lain, perusahaan tetap mencermati dampak kenaikan BBM terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan. Stabilitas ekonomi dinilai menjadi faktor penting bagi keberlanjutan industri otomotif.
"Namun kita hanya lebih konsennya adalah mudah-mudahan ini tidak berdampak cukup signifikan terhadap ekonomi secara keseluruhan," katanya.
Ia menekankan, perlambatan ekonomi akibat kenaikan biaya energi justru bisa menjadi tantangan bagi seluruh sektor, termasuk industri kendaraan listrik yang sedang tumbuh.
"Artinya kita mau ini industri tetap berkembang, EV-nya berkembang, otomotif secara keseluruhan juga berkembang," ujar Luther.
Menurutnya, keseimbangan antara kebijakan energi dan pertumbuhan industri perlu dijaga. Hal ini penting agar transisi menuju kendaraan listrik tidak terhambat oleh tekanan ekonomi.
Selain itu, BYD juga berharap permasalahan terkait pasokan dan harga bahan bakar dapat segera terselesaikan agar tidak menimbulkan efek domino terhadap daya beli masyarakat.
"Permasalahan bahan bakar juga selesai juga adalah hal yang kami harapkan," katanya.
Lebih jauh, Luther menilai dukungan kebijakan pemerintah tetap menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.
"Artinya secara ekonomi roda perekonomian kembali normal bahkan bisa lebih baik bila terjadi stimulus-stimulus tertentu seperti kita bahas sekarang, insentif apalagi untuk mendukung."
(pgr/pgr)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5455267/original/021553200_1766643113-IMG_2828_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456364/original/038814500_1766846753-IMG_2860_1_.jpeg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456969/original/021534900_1766982759-photo-grid_-_2025-12-29T112228.091.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)