Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
29 April 2026 09:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Belanja militer dunia kembali mencetak rekor pada 2025. Langkah banyak negara di Eropa dan Asia memperkuat militernya membuat pengeluaran pertahanan global melonjakhingga US$2,89 triliun atau sekitar Rp49.708 triliun (asumsi kurs Rp17.200/US$1).
Dikutip dari CNBC International, data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan belanja pertahanan global naik untuk tahun ke-11 secara beruntun pada 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah perang, ketidakpastian, dan gejolak geopolitik yang masih berlangsung di berbagai kawasan dunia.
Jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi global, belanja militer dunia naik menjadi 2,5% dari produk domestik bruto (PDB). Ini menjadi level tertinggi sejak 2009.
Eropa Jadi Motor Kenaikan Belanja Militer
Eropa menjadi pendorong utama kenaikan belanja militer global pada 2025. Pengeluaran pertahanan kawasan ini melonjak 14% menjadi US$864 miliar.
Kenaikan belanja militer Eropa juga sejalan dengan tuntutan lama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang berulang kali meminta negara-negara Eropa untuk meningkatkan kontribusi pertahanannya.
Di luar Rusia, Jerman menjadi negara dengan belanja militer terbesar di Eropa. Pengeluaran pertahanan Berlin naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$114 miliar.
Beban militer Jerman bahkan untuk pertama kalinya sejak 1990 melampaui panduan NATO sebesar 2% dari PDB. Pada 2025, rasio belanja pertahanan Jerman mencapai 2,3% dari PDB.
Spanyol juga mencatat lonjakan besar. Belanja militernya naik 50% menjadi US$40,2 miliar. Dengan kenaikan ini, beban pertahanan Spanyol untuk pertama kalinya melampaui 2% dari PDB sejak target belanja NATO disepakati pada 1994.
Pada Juni 2025, negara-negara anggota NATO, kecuali Spanyol, telah menetapkan tujuan jangka panjang untuk menaikkan belanja pertahanan hingga 5% dari PDB pada 2025. Namun, Madrid memilih tidak ikut dalam komitmen 5% tersebut.
Belanja Militer AS Turun
Meski belanja pertahanan global masih meningkat, laju pertumbuhannya melambat pada 2025. Belanja militer dunia hanya naik 2,9%, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 9,7% pada 2024.
Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan belanja militer AS sebesar 7,5%. Penurunan terjadi setelah tidak ada bantuan keuangan baru untuk Ukraina yang disetujui sepanjang tahun tersebut.
Kendati demikian, AS tetap menjadi negara dengan belanja pertahanan terbesar di dunia, yakni sebesar US$954 miliar.
China berada di posisi kedua. Belanja militer Beijing naik 7,4% menjadi sekitar US$336 miliar. Namun, sejumlah pakar menilai angka sebenarnya bisa lebih tinggi karena China tidak sepenuhnya membuka rincian belanja militernya.
"Penurunan belanja militer AS pada 2025 kemungkinan hanya bersifat sementara," kata Nan Tian, Direktur Program Belanja Militer dan Produksi Senjata SIPRI.
Pentagon disebut telah meminta anggaran pertahanan sekitar US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027. Jika disetujui, angka tersebut akan menjadi permintaan anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah.
Asia Ikut Jor-joran Belanja Senjata
Belanja militer di Asia dan Oseania juga meningkat tajam. Pada 2025, pengeluaran pertahanan negara-negara ini naik 8,1% menjadi US$681 miliar. Ini merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak 2009.
Menurut Diego Lopes da Silva, peneliti senior SIPRI, negara-negara sekutu AS di Asia dan Oseania seperti Australia, Jepang, dan Filipina meningkatkan belanja militernya bukan hanya karena ketegangan regional yang sudah lama berlangsung, tetapi juga karena meningkatnya ketidakpastian atas dukungan AS.
Taiwan menjadi salah satu sorotan. Belanja militer Taiwan naik 14% menjadi US$18,2 miliar atau setara 2,1% dari PDB. Ini menjadi kenaikan tahunan terbesar Taiwan setidaknya sejak 1988.
Kenaikan tersebut terjadi saat aktivitas militer China di sekitar Taiwan semakin intens. SIPRI mencatat, pada 2025 China menggelar dua latihan militer besar di sekitar Taiwan, yakni pada April dan Desember.
Media lokal juga melaporkan jumlah penerobosan pesawat militer China di sekitar Taiwan melonjak tajam, dari 380 kali pada 2020 menjadi rekor 5.709 kali pada 2025.
Jepang juga ikut meningkatkan belanja militernya. Pengeluaran pertahanan Negeri Sakura naik 9,7% menjadi US$62,2 miliar pada 2025. Angka ini setara 1,4% dari PDB, rasio tertinggi sejak 1958.
Perdana Menteri Sanae Takaichi berjanji menaikkan belanja pertahanan Jepang menjadi 2% dari PDB saat mulai menjabat. Langkah ini mencerminkan perubahan lebih luas dalam sikap keamanan Tokyo.
Jepang juga mencabut larangan ekspor senjata mematikan pada April. Tokyo kemudian menandatangani proyek ekspor kapal perang pertamanya dengan Australia. Dalam proyek tersebut, Mitsubishi Heavy Industries akan membangun tiga fregat baru untuk Angkatan Laut Kerajaan Australia.
Saham Pertahanan Ikut Terbang
Booming belanja pertahanan turut mengerek saham-saham sektor militer di Asia dan Eropa.
Di Korea Selatan, saham Hanwha Aerospace melonjak 192% sepanjang 2025. Kenaikan ini melanjutkan reli 153% pada 2024. Hanwha Aerospace dikenal sebagai produsen howitzer swagerak K9, salah satu sistem artileri yang paling banyak diekspor di dunia.
Saham perusahaan pertahanan Korea Selatan lainnya juga melesat. Hyundai Rotem, produsen tank tempur utama K2, naik 278%. Sementara LIG Defense & Aerospace, produsen sistem pertahanan udara, menguat 90% sepanjang 2025.
Di Jepang, komitmen pertahanan yang lebih besar dari Takaichi juga mendorong kenaikan saham-saham sektor pertahanan, bahkan sebelum Tokyo melonggarkan aturan ekspor senjata.
Saham Mitsubishi Heavy Industries naik 72,7% sepanjang 2025. Kawasaki Heavy Industries menguat 42,6%, sementara IHI Corp melonjak 107%.
Reli saham pertahanan juga terjadi di Eropa. Saham Rheinmetall asal Jerman melesat 154%, sementara ThyssenKrupp naik 215%.
Pada 2025, Uni Eropa mengumumkan rencana untuk memobilisasi dana hingga 800 miliar euro atau sekitar US$883 miliar hingga 2030 untuk memperkuat keamanan kawasan.
Rheinmetall merupakan produsen kendaraan tempur infanteri, meriam kaliber besar, dan sistem pertahanan udara. Sementara ThyssenKrupp memproduksi platform angkatan laut seperti fregat dan kapal selam.
Jerman juga meloloskan reformasi utang bersejarah pada Maret 2025. Kebijakan ini membuka jalan bagi peningkatan belanja pertahanan secara signifikan.
Di Inggris, saham BAE Systems naik 49,2% sepanjang 2025. Perusahaan ini memproduksi komponen untuk Eurofighter Typhoon dan F-35 Lightning II. Kenaikan saham terjadi seiring janji pemerintah Inggris untuk menaikkan belanja pertahanan nasional.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
