Dikasih Paham Mentan Amran, Ini Alasan Pemerintah Atur Harga Pangan

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman menjelaskan alasan pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) maupun harga acuan penjualan (HAP) pada sejumlah komoditas pangan strategis, termasuk gula dan beras. Kebijakan ini, menurutnya, bertujuan menjaga keseimbangan antara kepentingan petani, pedagang, dan konsumen.

Menanggapi usulan petani tebu agar harga gula tidak dibatasi demi meningkatkan semangat tanam, Amran menegaskan, pemerintah harus hadir sebagai penyeimbang.

"Jadi gini... kenapa ada harga acuan seperti beras? Kita ingin petani gula dan beras itu, semua komoditas strategis, untung. Tapi konsumennya tersenyum. Pedagangnya juga bahagia. Jangan untung banyak," kata Amran kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menekankan, kebijakan harga tidak bisa hanya berpihak pada satu pihak saja. Semua elemen dalam rantai pangan harus dijaga secara bersamaan.

"Jadi kita harus jaga tiga-tiganya. Jadi konsumen, pedagangnya dengan produsennya. Tiga-tiganya kita harus jaga. Itu pemerintah harus ada di tengah," jelasnya.

Menurut Amran, tanpa pengaturan harga, kondisi pasar bisa menjadi tidak terkendali dan berisiko merugikan masyarakat sebagai konsumen.

"Kalau seenaknya begitu, ya kacau nanti. Konsumen kasihan, terpukul lagi konsumen," tegas dia.

Ia mencontohkan kondisi beras saat ini yang dinilai relatif stabil dan tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi.

"Kita mau.. seperti beras sekarang. Aman kan? beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Petani sudah bahagia sekarang, konsumen bahagia. Ada satu-dua yang protes, mungkin (mereka) tidak ngerti gimana sulitnya itu bertani," kata Amran.

Produktivitas Jadi Kunci, Bukan Harga

Menanggapi keluhan petani tebu yang disebut mulai lesu karena harga yang dikekang, Amran menilai solusi utamanya bukan pada pelepasan harga, melainkan peningkatan produktivitas.

"(Dengan cara) tingkatkan produktivitas. Makanya kita bantu. Itu perintah Presiden (Prabowo Subianto). Bantu subsidi bongkar ratoon," ujarnya.

Ia mengaku memiliki pengalaman panjang di sektor tebu dan menyebut peningkatan hasil panen menjadi kunci keuntungan petani.

"Aku 15 tahun di tebu. Caranya untuk untung, tingkatkan produktivitas, yang 60 ton itu bisa naik 80 ton sampai 100 ton per hektare tebu. Rendemen-nya biasanya ikut naik. Pemupukannya harus pas," terang dia.

Amran juga menjelaskan pentingnya keseimbangan unsur hara dalam meningkatkan kualitas dan hasil tebu.

"Yang menaikkan rendemen-nya adalah kalium, KCL. Ini untuk manis. Kalau tubuhnya itu, batangnya itu fosfat. Kalau supaya fotosintesa bagus, itu nitrogen. Jadi tiga ini unsur utama yang harus masuk, dan harus seimbang," jelasnya.

Ia mengingatkan, ketidakseimbangan pupuk justru bisa merusak tanaman. "Karena kalau KCL (kalium)-nya kurang, fosfatnya tinggi, tanaman tebu bisa roboh," lanjut Amran.

Petani Minta Harga Tak Dibatasi

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen menilai minat petani menanam tebu masih rendah karena harga gula dinilai kurang menarik.

"Bercocok tanam atau menanam tebu itu masih kurang menarik. Karena harga gulanya dibatasi-batasi," ungkap Soemitro kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.

Ia menyebut, harga gula idealnya berada di kisaran 1,5 kali harga beras agar memberikan insentif yang cukup bagi petani.

"Gula itu sekarang biaya pokok produksinya sudah Rp15.000 lebih. Sehingga harganya itu minimal kita habis hampir pada angka Rp16.875," jelas dia.

Menurutnya, dengan margin yang tipis, petani lebih memilih beralih ke komoditas lain seperti padi yang dinilai lebih menguntungkan.

"Kalau dibandingkan menanam padi, masih menguntungkan menanam padi. Jadi jangan dibatasi harga gula," katanya.

Ia pun mendorong agar pemerintah mencabut batas atas harga gula dan menyerahkan mekanisme harga kepada pasar.

"Biarlah pasar yang menentukan harga. Jangan kita ini dipatok-patokin. Orang kita biaya pokok produksinya udah segitu, tapi di harga jual di atasnya dibatasi," tegas Soemitro.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |