Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
29 April 2026 09:52
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (29/4/2026). Tekanan masih datang dari sikap pelaku pasar yang menunggu pengumuman suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.
The Fed akan mengumumkan kebijakan suku bunga hari ini, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Merujuk Refinitiv per pukul 09.35 WIB, dari 11 mata uang Asia yang dipantau, 8 mata uang melemah, 1 menguat, dan 2 lainnya stagnan.
Rupiah masuk dalam jajaran mata uang dengan tekanan terdalam setelah melemah 0,58% ke level Rp17.310/US$. Pelemahan paling dalam dicatatkan peso Filipina yang terkoreksi 0,68% ke PHP 61,47/US$.
Tekanan juga terlihat pada baht Thailand yang berada di level THB 32,60/US$ setelah melemah 0,37%. Won Korea menyusul di posisi KRW 1.477,63/US$ atau turun 0,29%, sementara dolar Taiwan berada di TWD 31,56/US$ setelah terkoreksi 0,17%.
Yuan China dan ringgit Malaysia bergerak lebih terbatas. Yuan berada di level CNY 6,83/US$ dengan pelemahan tipis 0,03%, sedangkan ringgit Malaysia berada di MYR 3,95/US$ atau turun 0,03%.
Dolar Singapura juga cenderung melemah tipis 0,01% ke posisi SGD1,2766/US$.
Di sisi lain, dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang Asia yang mampu menguat. Mata uang tersebut berada di level VND 26.325/US$ setelah naik tipis 0,02%.
Sementara itu, yen Jepang dan rupee India bergerak stagnan, masing-masing di JPY159,61/US$ dan INR94,54/US$.
Pergerakan mata uang Asia hari ini masih sangat dipengaruhi arah dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.35 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke level 98,614.
Pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang keputusan suku bunga The Fed, yang diperkirakan menjadi rapat terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei.
The Fed diperkirakan masih akan menahan suku bunga. Karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga pada pernyataan The Fed mengenai kondisi ekonomi AS dan dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi.
Pekan ini, pasar juga menanti keputusan sejumlah bank sentral besar lainnya, termasuk dari Uni Eropa, Inggris, dan Kanada.
Sementara itu, Bank of Japan pada Selasa kemaerin telah menahan suku bunga di level 0,75%, tetapi memberikan sinyal yang cenderung hawkish atau membuka ruang pengetatan kebijakan ke depan.
Di sisi lain, ketidakpastian perang Timur Tengah masih menjadi faktor penting bagi pasar. Negosiasi antara AS dan Iran yang tersendat, ditambah masih tertutupnya Selat Hormuz, membuat kekhawatiran inflasi kembali meningkat karena jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital dunia.
Kondisi ini ikut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Presiden AS Donald Trump juga dilaporkan belum puas dengan proposal terbaru dari Teheran karena menilai isu terkait program nuklir harus dibahas sejak awal dalam setiap kesepakatan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457851/original/077752400_1767061479-IMG_2967_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
