Jakarta, CNBC Indonersia - Industri taksi otomatis tanpa sopir (robotaxi) makin menjamur di mana-mana. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) dan China berbondong-bondong melakukan ekspansi layanan, di tengah tantangan regulasi yang masih menjadi hambatan.
Kemunculan robotaxi memang masih menjadi kontroversi. Selain soal keamanan penumpang, teknologi baru ini juga membawa ancaman bagi profesi driver online.
Jika nantinya sistem teknologi pengemudian otomatis makin matang dan aman, dengan regulasi yang makin mendukung, bukan tak mungkin profesi driver online tak lagi relevan.
Waymo yang merupakan anak usaha Alpbahet (Google) menjadi pabrikan robotaxi yang paling kencang melakukan ekspansi layanan komersil di AS. Terbaru, pada Selasa (24/2) waktu setempat, Waymo membuka layanan robotaxi baru di beberapa titik di Dallas, Houston, San Antonio, dan Orlando.
Dengan ekspansi di kota yang lebih banyak, Waymo kini sudah mengoperasikan layanan secara total di 10 kota di AS. Langkah ini memantapkan dominasi Waymo di pasar robotaxi di AS.
Perusahaan afiliasi Google ini bertujuan untuk mempertahankan pelanggan setia dan memenangkan hati para skeptis, termasuk enam dari 10 driver online di AS yang mengatakan mereka takut dengan kehadiran robotaxi, menurut survei tahun 2025 oleh American Automobile Association.
Ekspansi ini juga hadir di tengah persaingan yang sengit dengan Tesla, Zoox milik Amazon, Waabi, dan Nuro, yang juga berencana menggelar robotaxi komersil di pasar AS.
Sementara itu, pemimpin robotaxi asal China seperti Apollo Go milik Baidu dan WeRide sudah mulai mengepakkan sayap lebih lanjut ke pasar internasional.
Pada Januari lalu, Waymo membuka layanan untuk penumpang di Miami, dan perusahaan tersebut mulai melayani penumpang di Austin tahun lalu dalam kemitraan dengan Uber. Selain itu, Waymo beroperasi di Atlanta, Phoenix, Los Angeles, dan San Francisco Bay Area.
Untuk pasar yang diluncurkan pada Selasa (24/2) kemarin, Waymo akan menggunakan sistem pengemudi generasi kelima di sedan Jaguar I-PACE model dasar. Awal bulan ini, perusahaan tersebut mulai menawarkan tumpangan kepada karyawan dan tamu mereka menggunakan sistem pengemudi generasi keenam Waymo, yang dibangun di atas mobil listrik Ojai berbasis Geely, di California.
Pada Februari 2026, perusahaan tersebut juga mengumumkan telah mengumpulkan pendanaan sebesar US$16 miliar yang memberi valuasi perusahaan sebesar US$126 miliar, dengan Alphabet sebagai investor mayoritas.
Pada akhir Januari 2026, Waymo mengoperasikan lebih dari 3.000 kendaraan otonom, menurut pengajuan kepada Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional. Regulator keselamatan otomotif telah memulai penyelidikan terhadap perilaku kendaraan perusahaan di sekitar sekolah dan bus sekolah.
Waymo juga menghadapi kritik atas perilaku kendaraannya selama pemadaman listrik pada Desember 2025 di San Francisco di tengah badai. Kendaraan Waymo berhenti di tengah beberapa jalan dan menyebabkan kemacetan.
Dalam surat kepada Senator Edward Markey bulan ini, Waymo mengatakan mereka telah menyediakan lebih dari 400.000 perjalanan berbayar per minggu di seluruh AS dan telah melampaui 20 juta perjalanan selama masa layanannya.
Markey meminta Waymo dan pengembang mobil otonom lainnya, untuk lebih transparan tentang bagaimana kendaraan otonom mereka bergantung pada manusia, yaitu "asisten jarak jauh," untuk memberikan panduan kepada mobil mereka dari pusat layanan pelanggan yang jauh ketika kendaraan mengalami kesulitan dalam menavigasi situasi.
(fab/fab)
Addsource on Google





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397493/original/081793800_1761810055-SnapInsta.to_569525283_18402218281189970_8523425264511917268_n.jpg)






