Trump Menyerah-Putin Tersenyum, AS Buka Keran Pembelian Minyak Rusia

3 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa di tengah gejolak pasar energi global akibat perang dengan Iran. Washington pada Kamis (12/3/2026) memberikan izin sementara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini masih terjebak di laut, dengan tujuan meredakan tekanan pada pasokan energi dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut bersifat terbatas dan hanya berlaku dalam jangka waktu singkat.

Dalam unggahan di platform X, Bessent menegaskan bahwa langkah ini tidak dimaksudkan untuk membuka kembali perdagangan minyak Rusia secara luas.

Ia menyebut kebijakan itu sebagai "langkah yang dirancang secara sempit dan bersifat sementara" yang hanya berlaku untuk minyak yang sudah berada dalam perjalanan.

Menurut informasi yang diperoleh CNBC, saat ini terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang berada di laut di sekitar 30 lokasi di seluruh dunia. Volume tersebut setara dengan kebutuhan AS sekitar lima hingga enam hari.

Langkah Washington untuk sementara mengizinkan pembelian minyak itu diharapkan dapat membantu meredakan volatilitas pasar energi yang meningkat sejak pecahnya perang dengan Iran.

Adapun harga minyak dunia mengalami pergerakan tajam sejak konflik dengan Iran dimulai. Pada Senin lalu, harga minyak bahkan sempat mendekati US$120 per barel.

Sementara itu, harga minyak acuan global Brent ditutup sedikit di atas US$100 per barel pada Kamis.

Lonjakan harga tersebut terjadi setelah pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei berjanji akan terus menutup Selat Hormuz, jalur laut penting yang menjadi rute bagi sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah.

Bessent berusaha menenangkan kekhawatiran pasar dengan menilai lonjakan harga minyak saat ini hanya bersifat sementara.

"Kenaikan sementara harga minyak adalah gangguan jangka pendek dan sementara yang pada akhirnya akan memberikan manfaat besar bagi negara dan ekonomi kita dalam jangka panjang," katanya.

Meski membuka ruang pembelian minyak Rusia di laut, pemerintah AS menegaskan kebijakan tersebut tidak akan memberikan keuntungan besar bagi pemerintah Rusia.

Bessent mengatakan hal itu disebabkan karena sebagian besar pendapatan energi Moskow berasal dari pajak yang dikenakan pada tahap produksi minyak, bukan pada tahap perdagangan.

Dengan kata lain, transaksi terhadap minyak yang sudah berada di laut tidak akan secara signifikan meningkatkan pemasukan pemerintah Rusia.

Pemberian izin tersebut juga memiliki batas waktu yang jelas. Pemberitahuan di situs Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa pengecualian ini hanya berlaku untuk produk minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal pada atau sebelum pukul 00.01 waktu Timur (EST) pada 12 Maret.

Sementara pembelian minyak tersebut diizinkan hingga 11 April pukul 00.01 EST.

Langkah ini menyusul kebijakan Washington sebelumnya yang memberikan pengecualian sementara kepada beberapa negara terkait impor minyak Rusia. Pekan lalu, pemerintah AS memberikan pengecualian selama 30 hari kepada India untuk membeli minyak mentah Rusia.

Sementara itu, negara-negara Barat masih mempertahankan sanksi terhadap sektor energi Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.

Kelompok negara maju G7 bersama Uni Eropa telah memberlakukan pembatasan harga terhadap minyak Rusia yang ditetapkan sekitar US$44,1 per barel. Uni Eropa juga telah berkomitmen untuk secara bertahap menghentikan seluruh impor minyak Rusia yang masih tersisa paling lambat pada akhir 2027.

Sanksi terhadap energi Rusia sebenarnya sudah diperketat sejak awal perang di Ukraina.

Pada 2022, Presiden Joe Biden melarang impor minyak Rusia, gas alam cair, dan batu bara ke AS. Larangan tersebut menjadi salah satu langkah utama Washington untuk menekan sumber pendapatan energi Moskow setelah invasi ke Ukraina.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |