- Pasar keuangan Indonesia kembali bergerak beragam pada perdagangan kemarin. IHSG berhasil berbalik menguat, sementara rupiah melemah tajam terhadap dolar AS
- Wall Street ditutup beragam tetapi mayoritas melemah
- Pasar keuangan hari ini akan mencermati keputusan The Fed yang menahan suku bunga, rilis PMI Manufaktur China, inflasi PCE AS, serta data klaim pengangguran AS.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali ditutup beragam pada perdagangan kemarin, Rabu (29/4/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat, sementara rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada hari ini, Kamis (30/4/2026). Perdagangan hari ini juga menjadi perdagangan terakhir pada pekan ini karena pasar keuangan domestik akan libur pada Jumat (1/5/2026) dalam rangka Hari Buruh.
Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup menguat 0,41% ke level 7.101,22 pada perdagangan Rabu kemarin. Penguatan ini sekaligus menjadi pembalikan arah setelah IHSG melemah dalam tujuh hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan kemarin, sebanyak 379 saham menguat, 282 saham melemah, dan 154 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp17,24 triliun, dengan melibatkan 42,97 miliar saham dalam 2,45 juta kali transaksi.
Investor asing masih mencatat aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,19 triliun di pasar saham domestik.
Mengutip data IDX, penguatan IHSG ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi penopang utama setelah naik 1,77% dan menyumbang 5,22 poin terhadap IHSG.
Selain TLKM, PT Impack Pratama Industri Tbk. (IMPC) melesat 7,44% dan memberi kontribusi 4,84 poin. PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC) juga naik 14,50% dengan kontribusi 4,06 poin, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang menguat 3,77% dan menyumbang 3,93 poin.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau. Penguatan terbesar dicatatkan sektor industrial yang naik 2,41%, disusul infrastruktur 1,48%, barang konsumen primer 1,45%, dan finansial 1,04%.
Sektor teknologi juga menguat 0,82%, barang konsumen non-primer naik 0,84%, energi naik 0,45%, properti dan real estat menguat 0,39%, serta transportasi dan logistik naik 0,31%.
Meski begitu, tekanan masih terlihat di beberapa sektor. Sektor bahan baku melemah 1,08%, sementara sektor kesehatan terkoreksi tipis 0,09%.
Di sisi pemberat, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi penekan utama IHSG setelah turun 4,50% dan menyeret indeks sebesar 5,17 poin. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga melemah 2,55% dan menekan IHSG 3,97 poin.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu kemarin.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.275/US$ atau melemah 0,38%. Pelemahan ini membawa rupiah kembali mendekati level psikologis Rp17.300/US$.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,26% ke level Rp17.255/US$, kemudian pelemahannya sempat semakin dalam hingga menyentuh Rp17.335/US$.
Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin masih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama arah dolar AS di pasar global menjelang pengumuman suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve.
Dolar AS cenderung menguat pada perdagangan Rabu, seiring sikap investor yang menunggu keputusan suku bunga The Fed. Pertemuan kali ini juga menjadi perhatian karena diperkirakan menjadi salah satu momen terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.
Selain agenda The Fed, ketidakpastian perang di Timur Tengah masih menjadi sumber tekanan bagi pasar global.
Harga minyak naik pada perdagangan Selasa karena investor menilai konflik Iran belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Kabar Uni Emirat Arab memangkas hubungan dengan OPEC turut menambah perhatian pasar terhadap arah pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak juga menekan pasar obligasi AS. Harga obligasi turun, sementara imbal hasilnya naik, karena investor khawatir harga energi yang tinggi dapat kembali mendorong tekanan inflasi.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak rupiah semakin terbatas. Ketika dolar AS menguat dan investor memilih aset aman, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya menjadi lebih rentan tertekan.
Beralih ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tajam pada penutupan perdagangan Rabu. Yield SBN 10 tahun melonjak 2,63% ke level 6,957%, semakin mendekati level psikologis 7%.
Sebagai catatan, kenaikan imbal hasil mengindikasikan harga SBN sedang turun. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku pasar cenderung melepas atau menjual SBN di pasar sekunder.
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)

