Siap Siaga Perang Iran Makin Liar, Apindo Minta Pemerintah Lakukan Ini

10 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan terus memantau eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah. Dunia usaha menilai risiko konflik tidak hanya pada sentimen pasar, tetapi juga potensi lonjakan harga energi, tekanan nilai tukar, hingga beban fiskal negara.

Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar mengatakan, risiko utama berasal dari potensi gangguan jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu bottleneck perdagangan energi dunia.

"Apindo terus memantau secara seksama eskalasi serangan AS-Israel ke Iran yang berpotensi meluas menjadi konflik kawasan di Timur Tengah. Risiko utama tidak hanya berasal dari sentimen pasar, tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang merupakan salah satu bottleneck perdagangan energi dunia, di mana sekitar 20% minyak dunia melewati wilayah tersebut," kata Sanny kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian sudah dapat mendorong kenaikan risk premium harga minyak dan gas serta biaya logistik internasional.

"Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja, itu sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global," jelasnya.

Indonesia yang sebagai net importir minyak, menurut Sanny, tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal, apabila harga energi global terkerek naik di atas asumsi APBN.

Menurutnya, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga energi. Jika harga bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat dan menekan defisit anggaran.

"Apindo menilai penting bagi pemerintah untuk mengelola risiko ini secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan, terhadap defisit dan pembiayaan utang negara," tegas dia.

Apindo juga mengingatkan potensi volatilitas rupiah akibat dinamika risk-off global. Pelemahan nilai tukar akan memperbesar biaya impor energi dan pangan sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal dinilai krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Dari sisi sektoral, industri yang bergantung pada energi dan logistik internasional akan merasakan tekanan langsung. Sektor padat karya disebut paling rentan karena margin tipis dan sensitivitas yang tinggi terhadap biaya distribusi, serta bahan baku impor.

"Dampak terhadap sektor usaha sendiri akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional akan merasakan tekanan langsung. Sektor padat karya menjadi salah satu yang paling rentan karena margin yang tipis dan sensitivitas tinggi terhadap biaya distribusi, bahan baku impor, serta permintaan ekspor yang terganggu," ujarnya.

Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, Sanny menilai, efek tidak langsung melalui harga energi global, nilai tukar, inflasi pangan, dan sentimen pasar keuangan jauh lebih relevan bagi dunia usaha nasional.

Adapun dalam jangka pendek, kata dia, saat ini pelaku usaha fokus pada langkah-langkah mitigasi risiko yang bersifat realistis dan adaptif.

Di antaranya melalui penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin termasuk pengelolaan eksposur valas, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.

"Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see tapi bersiap apabila tekanan global berlanjut," pungkasnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |