Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman cuaca ekstrem setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memastikan fenomena El Nino tengah terbentuk dan berpotensi memicu gelombang panas, kekeringan, banjir hingga badai tropis yang lebih dahsyat di berbagai belahan dunia sepanjang tahun ini. Para ilmuwan memperingatkan dampaknya bisa jauh lebih buruk dibandingkan siklus El Nino sebelumnya karena diperkuat oleh perubahan iklim global.
Dalam pernyataannya pada Selasa (2/6/2026), WMO menyebut peluang terbentuknya El Nino pada periode Juni hingga Agustus mencapai 80%, sementara kemungkinan fenomena tersebut bertahan setidaknya hingga November mencapai 90%. Pernyataan ini menjadi sinyal paling kuat sejauh ini mengenai kedatangan El Nino tahun ini.
El Nino merupakan fenomena alam yang biasanya muncul setiap 2 hingga 7 tahun sekali ketika angin pasat melemah dan menyebabkan suhu perairan di Samudra Pasifik bagian timur menjadi lebih hangat dari normal. Kondisi tersebut umumnya memicu kenaikan suhu global serta perubahan pola curah hujan yang drastis, menyebabkan kekeringan di sebagian wilayah dan hujan lebat di wilayah lain. Fenomena ini juga berpengaruh terhadap pembentukan badai dan siklon tropis.
Namun, para ilmuwan menyoroti dua faktor yang membuat El Nino kali ini jauh lebih mengkhawatirkan.
Pertama adalah kemungkinan bahwa El Nino tahun ini berkembang menjadi lebih kuat dibandingkan rata-rata. WMO menyebut masih terdapat ketidakpastian karena sebagian model iklim memproyeksikan El Nino kuat, sementara model lain menunjukkan intensitas yang lebih moderat.
Meski demikian, sejumlah proyeksi WMO membuka peluang terjadinya El Nino kuat yang ditandai suhu permukaan laut di Pasifik timur setidaknya 1,5 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Kekhawatiran kedua adalah pengaruh perubahan iklim yang telah meningkatkan suhu rata-rata bumi sekitar 1,3 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri akibat emisi gas rumah kaca.
Kondisi dasar bumi yang sudah lebih panas membuat dampak El Nino menjadi jauh lebih ekstrem, mulai dari lonjakan suhu yang lebih tinggi, kekeringan yang lebih parah, gelombang panas berkepanjangan, curah hujan ekstrem hingga berbagai bencana turunan seperti kebakaran hutan, banjir besar, dan gagal panen.
"Ketika kita mengalami El Nino, karena adanya perubahan iklim yang mendasarinya ... hal-hal tersebut menjadi lebih intens dan dampaknya menjadi jauh lebih besar," kata Profesor Perubahan Iklim Fisik dari University of Leeds, Piers Forster, dilansir Reuters.
Kombinasi perubahan iklim dan El Nino bahkan membuat WMO memperingatkan bahwa tahun 2027 berpotensi menjadi tahun terpanas sejak pencatatan modern dimulai. Saat ini rekor tersebut masih dipegang tahun 2024, yang juga merupakan tahun El Nino kuat menurut penilaian WMO.
Meski setiap El Nino memiliki karakteristik berbeda dan dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah, pola umum yang kerap muncul adalah meningkatnya curah hujan di Amerika Selatan bagian selatan dan sebagian Asia Tengah, sementara Amerika Tengah dan Australia cenderung mengalami kekeringan.
Fenomena ini juga diketahui memperkuat gelombang panas bahkan di wilayah yang jauh dari Samudra Pasifik seperti Eropa. Konsekuensinya dapat sangat serius bagi produksi pangan, aktivitas industri, serta keselamatan manusia.
Salah satu contoh dampak besar El Nino terjadi pada April hingga Mei 2024 ketika banjir besar melanda negara bagian Rio Grande do Sul di Brasil. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 180 orang dan memaksa sekitar 600.000 orang mengungsi.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kombinasi perubahan iklim dan El Nino memperparah hujan ekstrem yang memicu bencana tersebut.
Kepala Pusat Iklim Universitas Rio Grande do Sul, Francisco Aquino, memperingatkan bahwa El Nino kuat tahun ini berisiko memicu bencana serupa.
"Ketika Anda memiliki El Nino di atas dampak yang sudah dibawa perubahan iklim, risikonya sangat besar," kata Aquino kepada Reuters.
"El Nino yang kuat dapat menghasilkan skenario yang persis sama seperti yang kita lihat saat itu, karena dunia terus memanas, dan suhu lautan terus meningkat," tambahnya,
Dampak perubahan iklim juga disebut memperparah efek El Nino di Afrika bagian selatan.
Di kawasan tersebut, El Nino biasanya mengurangi curah hujan selama musim penghujan sehingga menghambat produksi listrik tenaga air dan menekan hasil pertanian.
Peneliti Senior Iklim dari Netherlands Meteorological Institute, Izidine Pinto, mengatakan perubahan iklim akan membuat kondisi tersebut makin buruk.
"Perubahan iklim akan membuat curah hujan di bawah normal menjadi lebih intens, sehingga berlangsung lebih lama atau menghasilkan hujan yang lebih sedikit... dan tentu saja hal itu akan memengaruhi sektor pertanian, terutama petani yang bergantung pada hujan di kawasan tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Euro-Mediterranean Center on Climate Change, Antonio Navarra, menyoroti ancaman meningkatnya kekuatan siklon tropis di Samudra Pasifik.
"Karena air di Pasifik akan jauh lebih hangat, akan ada lingkungan yang jauh lebih mendukung untuk pembentukan siklon tropis.... El Nino akan memasukkan energi dalam jumlah sangat besar ke dalam sistem, sehingga semuanya akan menjadi lebih intens," katanya.
Sejumlah ilmuwan bahkan menilai dampak El Nino tahun ini dapat menjadi gambaran awal mengenai kondisi iklim ekstrem yang akan menjadi hal biasa dalam beberapa tahun ke depan, bahkan tanpa kehadiran El Nino.
"Hal ini memang memberikan gambaran tentang masa depan," kata Forster.
Peneliti dari Imperial College London, Theodore Keeping, menjelaskan bahwa pengaruh El Nino terhadap sirkulasi atmosfer membuat dampaknya berbeda dari sekadar pemanasan global biasa. Namun secara umum fenomena ini dapat memberikan gambaran mengenai kondisi iklim masa depan.
"Anda bisa mengamati kondisi cuaca yang biasanya hanya akan Anda lihat di iklim yang lebih hangat pada tahun El Nino netral," kata Keeping.
(luc/luc)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494769/original/017852300_1770340983-IMG_4607_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495267/original/070964000_1770362176-collage-1770361735577.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)