Saudi Aramco Beri Peringatan Stok BBM Global Menuju Level Kritis

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran besar di pasar energi global. Raksasa migas Arab Saudi, Saudi Aramco, telah memperingatkan bahwa cadangan bahan bakar dunia berpotensi menyentuh level "sangat kritis" apabila penutupan Selat Hormuz terus berlanjut hingga musim panas.

Chief Executive Officer Aramco, Amin Nasser mengatakan stok bensin dan bahan bakar pesawat mengalami penurunan tercepat sejak konflik Iran pecah dan jalur pelayaran utama energi dunia itu terganggu.

Nasser mengungkapkan, dunia telah kehilangan pasokan minyak kumulatif sekitar 1 miliar barel sejak perang Iran dimulai. Bahkan, setiap pekan Selat Hormuz tertutup, sekitar 100 juta barel tambahan hilang dari pasar global.

"Satu-satunya bantalan yang tersedia saat ini adalah stok onshore" tetapi telah "menipis secara signifikan", kata Nasser, mengutip Financial Times, Selasa (12/5/2026).

Selat Hormuz yang merupakan jalur vital biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan itu telah memaksa sejumlah negara Asia mengurangi konsumsi energi, sementara negara-negara Barat mulai lebih agresif menggunakan cadangan strategis dan komersial mereka.

Sebagai informasi, harga minyak telah berfluktuasi secara drastis dalam 10 minggu terakhir, naik hingga US$126 per barel pada akhir April sebelum turun kembali ke sekitar US$100 per barel, seiring dengan sinyal dari pemerintahan Trump bahwa mereka mencari penyelesaian jangka panjang untuk konflik tersebut.

JPMorgan juga memperingatkan bahwa stok minyak komersial di negara maju bisa mendekati batas tekanan operasional pada awal Juni. Kondisi ini dinilai dapat mempersempit kemampuan pasar global untuk menutup kekurangan pasokan Timur Tengah.

Kepala strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menilai kondisi ini dapat memaksa tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, meski Gedung Putih dan Teheran masih berselisih mengenai rencana perjanjian damai. Alternatifnya adalah kenaikan tajam lebih lanjut pada harga bahan bakar olahan, yang berpotensi memicu inflasi secara global.

"Kesimpulan kami adalah bahwa bagaimanapun juga, selat tersebut akan dibuka kembali pada bulan Juni," ungkapnya.

Namun, Ia mengungatkan, pasar hanya akan mempercayai pengumuman yang jelas dan kredibel, yang disahkan dan dikonfirmasi oleh kedua belah pihak.

"Fase berikutnya dari guncangan ini mungkin tidak akan terlihat seperti lonjakan harga minyak mentah tradisional, melainkan lebih seperti krisis pengolahan dan bahan bakar pengguna akhir," imbuhnya.

Meski demikian, Nasser menilai pasar masih terlalu optimistis terhadap jumlah minyak yang tersedia di penyimpanan global. Ia menegaskan sebagian besar stok sebenarnya tidak bisa langsung digunakan karena terkunci dalam kebutuhan operasional seperti isi pipa dan batas minimum tangki penyimpanan.

"Tingkat persediaan agregat secara global bukanlah cerminan yang tepat dari ketatnya pasar fisik yang kita lihat saat ini," kata Nasser.

Sementara Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) kini mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah guna meredam dampak perang Iran. Namun kapasitas pelepasan cadangan tersebut tetap terbatas.

"Di Eropa dan AS, jumlah maksimum yang dapat ditarik dari sana adalah 2 juta barel per hari," kata Nasser.

Aramco juga mulai mempertimbangkan perluasan kapasitas ekspor minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah itu menjadi sinyal bahwa Arab Saudi ingin mengurangi ketergantungan ekspor minyak melalui Selat Hormuz yang kini semakin rentan terhadap konflik geopolitik.

Sebab, jika Selat Hormuz masih tertutup hingga pertengahan Juni, pasar minyak mungkin akan tetap tidak stabil hingga tahun depan, katanya pada Senin.

"Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa minggu lagi, akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil," kata Nasser.

Meskipun Aramco dapat mencapai tingkat produksi minyak berkelanjutan maksimumnya sebesar 12 juta barel per hari jika selat tersebut dibuka kembali, Nasser mengatakan negara-negara lain akan kesulitan untuk meningkatkan produksi secara cepat.

Laba Aramco pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat karena kenaikan harga minyak dan kemampuan untuk mengalihkan ekspor minyak dari Teluk ke pelabuhan Laut Merahnya. Upaya itu berhasil mengimbangi penurunan ekspor secara keseluruhan sejak Maret.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |