Jakarta, CNBC Indonesia — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ambruk ke bawah level 7.000 pada akhir sesi 1 hari ini, Rabu (4/3/2026). Sejak awal perdagangan saham BBCA berada di zona merah dengan level terendah di 6.900.
Pada akhir sesi 1, BBCA ditutup turun 1,77% dan parkir di level 6.950. Nilai transaksi mencapai Rp 647,1 miliar, melibatkan 92,63 juta saham.
Dari sisi indikator teknikal, harga saham BBCA sudah berada di bawah garis moving average (MA) 9 dan MA 50, menunjukkan momentum pelemahan yang masih kuat.
Selain itu, pola pergerakan harga juga membentuk lower high dan lower low, yang merupakan ciri klasik dari tren penurunan.
Secara teknikal, terdapat beberapa area penting yang kini menjadi perhatian pelaku pasar. Level Rp6.800-Rp7.000 menjadi support terdekat yang saat ini sedang diuji. Jika area tersebut tidak mampu dipertahankan, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju area Rp6.300 yang merupakan titik terendah terbaru pada grafik.
Tekanan pada saham perbankan besar seperti BBCA juga terjadi di tengah sentimen pasar global yang masih bergejolak. Ketidakpastian geopolitik serta aksi jual investor asing turut memicu fase risk-off di pasar saham.
Adapun dalam dua hari perdagangan terakhir, saham BBCA masih diselimuti aksi jual asing. Net foreign sell pada 2-3 Maret 2026 mencapai Rp 183 miliar. Angka ini menambah akmulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan yang sudah mencapai Rp 16,97 triliun.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin melemah dan kini turun sebanyak 343,20 poin atau turun 4,32% ke level 7.596,57 pada penutupan perdagangan sesi I siang ini.
Pelemahan pagi ini melanjutkan koreksi signifikan pada perdagangan kemarin di mana IHSG turun 0,96% dan dua hari sebelumnya ambruk 2,65%.
Sebanyak 748 saham turun, 68 naik, dan 142 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 18,06 triliun, melibatkan 33,08 miliar saham dalam 2,09 juta kali transaksi.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

















































