Rupiah Tertekan-PHK Mengintai, Pengusaha Tetap Yakin Ekonomi RI Kuat

12 hours ago 9

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS memunculkan kekhawatiran di kalangan dunia usaha. Sejumlah pelaku industri bahkan mengaku mempercepat efisiensi seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk menjaga arus kas perusahaan di tengah tekanan ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana mengatakan tekanan terhadap rupiah maupun koreksi pasar saham merupakan bagian dari dinamika yang lazim terjadi ketika perekonomian global menghadapi ketidakpastian.

"Itu hanya sesaat aja (jika terjadi PHK), yang pasti saya sebagai pengusaha tetap optimis indonesia pasti bisa melewatin masa masa sulit. Indonesia telah berkali-kali menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, mulai dari krisis keuangan Asia, krisis global 2008, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak geopolitik dunia," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).

"Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi nasional tidak boleh diukur hanya dari pergerakan harian kurs atau indeks saham, melainkan dari kemampuan menjaga aktivitas ekonomi riil, investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja," lanjutnya.

Tekanan yang saat ini dialami Indonesia juga dirasakan oleh banyak negara berkembang lainnya. Faktor seperti tingginya suku bunga global, ketegangan geopolitik, hingga perpindahan modal internasional masih menjadi tantangan di pasar keuangan dunia.

HKI berpandangan fokus pemerintah saat ini seharusnya bukan pada gejolak jangka pendek pasar keuangan, melainkan memastikan investasi dapat terealisasi lebih cepat melalui reformasi struktural yang berkelanjutan.

Mulai dari penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, hingga penyediaan energi dan infrastruktur dinilai menjadi faktor yang lebih menentukan keputusan investor dibandingkan pergerakan kurs dalam jangka pendek.

"Investor pada dasarnya mencari tiga hal yakni kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Ketika ketiga hal tersebut dapat diberikan secara konsisten, maka Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik," lanjut Ma'ruf.

Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi tujuan relokasi industri apabila reformasi regulasi dan percepatan investasi dapat terus dijalankan secara konsisten.

"Sejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu bergerak cepat di tengah ketidakpastian justru menjadi pemenang ketika ekonomi global kembali pulih. Karena itu, saat ini bukan waktunya pesimis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, dan investor guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," kata Ma'ruf.

Sebagai informasi, hingga pukul 10.00 WIB, dolar AS sudah menyentuh level Rp18.150. Melansir data Refinitiv, per pukul 09.07 WIB atau tujuh menit setelah pembukaan perdagangan, rupiah melemah ke level Rp18.100/US$. Posisi tersebut membuat mata uang Garuda terdepresiasi sekitar 0,50% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
 

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |