Rupiah Terendah Sepanjang Masa, Dolar AS Sudah Tembus Rp17.940

12 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan mencatatkan rekor level terendah baru.

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.940/US$. Posisi ini menandai tembusnya level psikologis baru di Rp17.900/US$, sekaligus semakin mendekatkan rupiah ke level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sudah berada dalam tekanan sejak pembukaan. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.870/US$, sebelum depresiasi semakin dalam hingga penutupan perdagangan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat. Per pukul 15.00 WIB, DXY naik 0,05% ke posisi 99,271.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.

Dari eksternal, penguatan dolar AS di pasar global membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, semakin sempit. Dolar AS kembali menguat setelah ketegangan di Teluk kembali meningkat dan mendorong permintaan terhadap greenback sebagai safe haven.

Komando Pusat AS menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah sejumlah negara di kawasan teluk, meski seluruhnya gagal mengenai target. Di sisi lain, pasukan AS juga disebut melakukan serangan ke Pulau Qeshm sebagai respons atas percobaan serangan dari Teheran.

Dari domestik, tekanan juga datang dari kinerja perdagangan Indonesia yang melemah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan April 2026 hanya sekitar US$90 juta, turun tajam dari US$3,32 miliar pada Maret 2026.

Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia periode Januari-April 2026 juga turun dari US$11,07 miliar menjadi US$5,64 miliar.

Terkait pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.

"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis.

Ramdan memastikan BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan.

Selain itu, mulai 2 Juni 2026, BI telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan.

BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Upaya ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Kerja sama LCT tersebut telah terjalin dengan sejumlah mitra, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |