Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto menyoroti konflik di Timur Tengah yang terus bereskalasi, termasuk keterlibatan negara-negara Islam yang justru mendukung kubu yang berbeda.
Prabowo mengaku prihatin melihat adanya perbedaan sikap tajam di antara negara-negara Islam dalam konflik kawasan. Dirinya mencontohkan bagaimana negara sahabat Indonesia seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berada di posisi berseberangan dalam konflik yang melibatkan sesama negara Muslim.
"Ya, yang sedih, bagaimana bisa ya, contoh, ada perang saudara di sesama negara Islam. Satu negara sahabat kita, mitra kita, katakanlah Arab Saudi, kemudian Uni Arab Emirates, sahabat kita juga, sesama anggota OKI, sesama anggota sahabat kita, mereka mendukung pihak yang berlawanan, yang saling berperang," ujarnya dalam program Presiden Prabowo Menjawab (Part 2) yang ditayangkan, Sabtu (21/3/2026) malam.
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi dalam konflik di Yaman dan Sudan. Situasi ini menurut Prabowo, menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk bersikap hati-hati dalam menentukan posisi di tengah konflik global.
Prabowo menegaskan,pendekatan terbaik Indonesia adalah tetap menjaga hubungan baik dengan semua pihak. Dengan posisi tersebut, Indonesia diharapkan bisa tetap diterima oleh berbagai negara, temasuk Iran maupun negara-negara Teluk.
"Kita hormati semua kekuatan. Dan kalau kita baik sama semua, kita mungkin bermanfaat. Itu yang saya sampaikan. Saya tidak tahu gradasinya apa, kalau kita masih bisa diterima oleh Iran, tapi kita masih dipercaya oleh negara-negara Teluk, mungkin itu baik, " ujarnya.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas aktif dan nonblok yang sudah ditekankan sejak zaman para pendiri bangsa.
Prinsip tersebut, juga tecermin dalam sikap tegas Indonesia yang menolak kehadiran pangkalan militer asing di dalam negeri.
"Kita tidak bisa umpamanya mengizinkan pangkalan pasukan asing manapun di Indonesia, itu prinsip ya kita. Selalu seperti itu. Dari zaman Bung Karno, Pak Harto, sampai sekarang," tegasnya.
Meski demikian, Indonesia tetap terbuka terhadap kerja sama internasional, termasuk kunjungan damai ataupun aktivitas pelayaran dari berbagai negara, baik Amerika Serikat, Rusia, maupun China, selama sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Kalau kita peaceful visit, peaceful navigation kepada semua, semua negara mau refill di Indonesia, kita izinkan, ya kan? Amerika mau, monggo, tapi kalau Rusia mau juga monggo, kalau Tiongkok mau, monggo," ujarnya.
"So, that's very clear, ya. Dan kita tidak mau mengganggu negara lain, kita terbuka, kita jaga, investasi siapapun di Indonesia kita jaga, asal mereka patuhi ketentuan kita, undang-undang kita," tegas Prabowo.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































