Perdana! Moody's Beri Peringkat Baa2 ke Danantara, Outlook Negatif

13 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat global Moody's memberikan rating Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM). Ini merupakan kali pertama DIM memperoleh peringkat utang dari Moody's.

"Kami telah menetapkan peringkat sementara Baa2 untuk program surat utang jangka menengah (MTN) global tanpa jaminan yang ditetapkan oleh DIM. Surat utang dalam program ini dapat diterbitkan oleh DIM sendiri atau oleh DIM dan penerbit anak perusahaannya secara bersama-sama atau beberapa pihak. Kami juga telah menetapkan peringkat Baa2 untuk usulan obligasi senior tanpa jaminan yang diterbitkan oleh DIM," tulis Moody's dalam laporan terbarunya, dikutip CNBC Indonesia Rabu (3/6/2026).

Moody's menambahkan bahwa outlook untuk semua peringkat utang DIM bersifat negatif.

"Peringkat Baa2 bagi Danantara Investment Management dengan outlook negatif selaras dengan peringkat pemerintah Indonesia (Baa2 negatif), didukung oleh hubungan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikannya dalam kerangka kelembagaan Danantara dan ekspektasi kami akan dukungan luar biasa dari pemerintah," kata Rachel Chua, Wakil Presiden dan Analis Senior Moody's Ratings.

Alasan Peringkat Baa2

Moody's menjelaskan peringkat emiten Baa2 DIM selaras dengan peringkat utang Baa2 Pemerintah Indonesia, yang mencerminkan keterkaitan kredit yang kuat antara DIM dan pemerintah. Keterkaitan ini mencakup struktur kepemilikan DIM, perannya dalam Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Moody's mengklasifikasikan DIM sebagai Entitas yang Terkait Pemerintah (GRI) dan menerapkan pendekatan top-down. Tidak ada Penilaian Kredit Dasar yang diberikan, yang mencerminkan tahap perkembangan DIM yang masih awal, rekam jejak yang terbatas, dan tidak adanya operasi mandiri yang berarti. Oleh karena itu, peringkat ini terutama didorong oleh keterkaitan dengan pemerintah daripada kekuatan kredit mandiri.

Keselarasan peringkat didukung oleh landasan hukum DIM dan keterkaitan kepemilikan yang berkelanjutan. DIM didirikan berdasarkan Undang-Undang Indonesia Nomor 16 Tahun 2025 sebagai bagian dari struktur kelembagaan Danantara yang juga menetapkan BPI Danantara sebagai entitas induk yang bertanggung jawab untuk mengelola dan mengoptimalkan aset dan investasi BUMN. DIM sepenuhnya dimiliki oleh BPI Danantara, dan kerangka hukum mensyaratkan setiap divestasi harus dilakukan melalui amandemen legislatif, memperkuat keberlangsungan hubungan kepemilikan.

Moody's juga mempertimbangkan tingkat pengawasan pemerintah dan integrasi tata kelola yang tinggi, yang mendukung kemungkinan besar dukungan luar biasa dari pemerintah. Integrasi tata kelola semakin diperkuat oleh tumpang tindih dalam manajemen senior dan perwakilan dewan antara BPI Danantara dan DIM, mendukung penyelarasan strategi dan pelaksanaan investasi.

Anggaran tahunan DIM dikonsolidasikan ke dalam anggaran keseluruhan BPI Danantara, yang disetujui oleh Dewan Pengawas BPI Danantara yang beranggotakan 11 orang, termasuk sembilan menteri yang sedang menjabat selain Ketua, menyediakan saluran langsung untuk pengawasan yang terkait dengan pemerintah atas alokasi sumber daya dan prioritas strategis DIM. Kerangka hukum juga mengharuskan rencana kerja dan anggaran tahunan perusahaan DIM untuk dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Keputusan investasi DIM diatur oleh kerangka persetujuan yang terstruktur. Proposal investasi tunduk pada proses persetujuan bertingkat-mulai dari Komite Investasi internal DIM hingga Dewan Direksi dan Dewan Komisaris, dan berpotensi hingga BPI Danantara sebagai pemegang saham tunggal-tergantung pada ukuran dan materialitas transaksi, memperkuat kedalaman pengawasan atas aktivitas investasi DIM.

Integrasi keuangan dalam struktur Danantara mendukung likuiditas DIM dan menggarisbawahi kerangka dukungan. Di bawah struktur arus dana grup, dividen BUMN dikumpulkan di BPI Danantara dan kemudian dialokasikan, dengan sebagian disuntik ke DIM sebagai ekuitas untuk penyebaran investasi. DIM menerima suntikan ekuitas awal sebesar Rp 70 triliun pada tahun 2025, dengan tambahan Rp 50 triliun yang diharapkan pada tahun 2026. Selain itu, dengan persetujuan dewan pengawas, BPI Danantara berwenang untuk bertindak sebagai penjamin bagi DIM, memperkuat keterkaitan keuangan dalam struktur tersebut.

Outlook

Prospek negatif pada peringkat DIM sejalan dengan prospek negatif pada peringkat kedaulatan Pemerintah Indonesia, yang mencerminkan keterkaitan kredit yang kuat antara keduanya.

Likuiditas

Moody's mencatat likuiditas DIM sangat baik. Likuiditas di tingkat holding didukung oleh suntikan ekuitas yang diterima dari BPI Danantara. Perusahaan juga telah membangun saluran pendanaan eksternal, termasuk Rp 68,4 triliun yang diperoleh melalui penerbitan Obligasi Patriot dan fasilitas kredit bergulir sebesar US$10 miliar, di mana US$1 miliar telah dikomitmenkan. Fasilitas kredit bergulir telah ditarik sebagian untuk mendanai penempatan ke dana swasta dan investasi terkait real estat. Perusahaan mengharapkan penarikan lebih lanjut karena terus melakukan penempatan modal.

DIM tidak memiliki kewajiban untuk membayar dividen dan tidak memiliki jatuh tempo utang selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Faktor yang Menyebabkan Kenaikan dan Penurunan Peringkat

Peningkatan peringkat DIM tidak mungkin terjadi mengingat prospek negatif pada peringkat obligasi Pemerintah Indonesia. Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat surat utang RI. Oleh karena itu, peningkatan peringkat surat utang RI dapat menyebabkan peningkatan peringkat DIM, dengan syarat keterkaitannya dengan pemerintah tetap tidak berubah.

Peringkat DIM dapat diturunkan jika peringkat surat utang Pemerintah Indonesia diturunkan. Peringkat tersebut juga dapat tertekan jika terjadi pelemahan hubungan dengan pemerintah, termasuk perubahan pada mandat, kepemilikan, atau perannya dalam struktur Danantara yang mengurangi pengaruhnya terhadap pemerintah.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |