Pejabat AS Ungkap Perang Iran Buat Amerika Makin Kaya, Ini Buktinya

6 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Senator Republik Amerika Serikat (AS), Lindsey Graham, menyatakan bahwa Washington akan menguasai hampir sepertiga cadangan minyak dunia dan meraup keuntungan rekor jika berhasil menggulingkan pemerintah Iran. Dalam wawancara bersama Fox News pada Minggu, Graham menegaskan ambisi strategis di balik konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah tersebut.

Graham menggambarkan biaya serangan terhadap Iran sebagai uang terbaik yang pernah dihabiskan dalam sejarah. Ia berpendapat bahwa perang ini bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun Teheran terus membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.

"Ketika rezim ini tumbang, kita akan memiliki Timur Tengah yang baru, kita akan menghasilkan banyak sekali uang. Tidak akan ada lagi yang mengancam Selat Hormuz," ujar Graham yang juga menambahkan bahwa AS akan menempatkan pemerintahan yang ramah di Teheran, dikutip Senin.

Lebih lanjut, Graham menyoroti potensi penguasaan sumber daya energi global melalui kontrol terhadap Iran dan Venezuela. Menurutnya, dominasi atas cadangan minyak kedua negara tersebut akan menjadi pukulan telak bagi rival geopolitik Amerika Serikat, terutama China.

Senator AS Lindsey Graham (R-SC) berbicara kepada wartawan, pada hari pengarahan rahasia untuk seluruh Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS tentang situasi di Iran, di Capitol Hill di Washington, D.C., AS, 3 Maret 2026. (REUTERS/Elizabeth Frantz)Senator AS Lindsey Graham (R-SC) (REUTERS/Elizabeth Frantz)

"Venezuela dan Iran memiliki 31% cadangan minyak dunia. Kita akan menjalin kemitraan dengan 31% cadangan minyak yang diketahui. Ini adalah mimpi buruk bagi China. Ini adalah investasi yang bagus," tegas Graham.

Pernyataan Graham muncul saat harga minyak mentah global melonjak melewati angka US$ 100 (Rp 1.997.600) per barel. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump meremehkan kenaikan harga tersebut dan menganggapnya sebagai harga yang sangat kecil untuk dibayar dalam perang AS-Israel melawan Iran yang diluncurkan sejak 28 Februari lalu.

Washington sendiri diketahui telah berupaya mengendalikan sektor minyak Venezuela setelah komando AS menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari lalu. Pada Sabtu kemarin, Presiden Trump secara resmi mengakui Presiden pelaksana Venezuela, Delcy Rodriguez, yang telah memberikan sinyal niat untuk bekerja sama dengan AS.

Sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel, Iran telah menutup Selat Hormuz dan menyerang beberapa kapal tanker yang mencoba melintasi jalur pelayaran krusial tersebut. Tindakan ini memicu gangguan lebih lanjut pada arus energi global, ditambah dengan serangan balasan militer Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di negara-negara Teluk.

Pemerintah Teheran mengecam perang tersebut sebagai agresi tanpa provokasi dan bersumpah tidak akan tunduk pada tuntutan menyerah tanpa syarat yang diajukan oleh Trump. Hingga saat ini, ketegangan militer di kawasan tersebut masih terus meningkat dan memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.

(tps/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |