Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi internasional berbasis di Prancis, Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) memangkas pertumbuhan ekonomi dunia di 2026 ini. Perang di Timur Tengah, terutama konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menganggu kawasan Timur Tengah (Timteng) dan Selat Hormuz, telah merusak prospek pertumbuhan global.
Merujuk "OECD Economic Outlook, Volume 2026 Issue 1", pada skenario pertama, ekonomi dunia hanya akan tumbuh 2,8% di sepanjang 2026- meski ada potensi meningkat menjadi 3,1% di 2027. Sebelumnya ekonomi global tumbuh 3,4% di 2025.
"Skenario berbasis proyeksi adalah skenario dimana gangguan akibat konflik cukup besar namun terbatas pada periode waktu yang relatif singkat, yang selanjutnya disebut sebagai skenario 'time-limited disruption scenario'," tulis laporan, dikutip Rabu (3/6/2026).
"Harga energi diasumsikan menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu sejalan dengan harga berjangka, di tengah kemajuan menuju perjanjian perdamaian yang dapat dinegosiasikan dan bertahan lama. Produksi dan perdagangan energi di negara-negara Teluk secara bertahap kembali ke tingkat sebelum konflik mulai kuartal ketiga tahun 2026 dan seterusnya dalam skenario ini," tambah laporan tersebut.
"Mungkin terdapat sedikit kekurangan energi di beberapa negara, terutama di Asia, namun penggunaan cadangan strategis, minyak dalam transit atau disimpan di kapal tanker, dan sejumlah pasokan tambahan dari produsen non-Teluk membantu meredam guncangan tersebut."
Dalam skenario ini, khusus negara-negara G-20, inflasi harga konsumen tahunan diperkirakan akan meningkat menjadi 4,0% pada tahun 2026 dari 3,4% pada tahun 2025, sebelum turun menjadi 3,1% pada tahun 2027 seiring dengan memudarnya tekanan harga energi dan tekanan harga pangan mencapai puncaknya. Inflasi inti diperkirakan akan kembali mendekati target di banyak negara pada akhir tahun 2027.
"Jika penyelesaian jangka panjang tercapai, dengan penurunan harga energi yang lebih besar dibandingkan dengan harga berjangka pada akhir bulan Mei, maka pertumbuhan global kemungkinan akan sedikit lebih tinggi dan tekanan inflasi akan lebih rendah," muat OECD lagi.
"Misalnya, penurunan tambahan harga minyak dan gas serta biaya pupuk sebesar 10% pada paruh kedua tahun 2026 akan meningkatkan pertumbuhan PDB global sebesar 0,1 poin persentase tambahan pada tahun 2027 dan mengurangi inflasi global sebesar 0,3 poin persentase," tambahnya.
Pertumbuhan RI?
Masih merujuk "time-limited disruption scenario", pertumbuhan diperkirakan akan melambat secara moderat di Amerika Utara dan Eropa sebelum terjadi pemulihan sementara, dengan Amerika Serikat melambat menjadi 2,0% pada tahun 2026 dan 1,8% pada tahun 2027. Kanada turun menjadi 1,2% sebelum pulih kembali menjadi 1,7%.
Meksiko menguat menjadi 1,9% pada tahun 2027 sementara Inggris dari 0,9% menjadi 1,1%. Ekonomi China melambat secara stabil menjadi 4,5% pada tahun 2026 dan 4,3% pada tahun 2027.
Khusus Indonesia, pertumbuhan ekonomi diramal 4,7% di 2026 ini dengan 5,0% di 2027. Di antara negara-negara G-20, RI menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua setelah India.
2027 Makin Suram-Negara Resesi?
Namun, jika perang di Timur Tengah tak bisa diselesaikan, pertumbuhan global diyakini akan makin melambat secara signifikan. Skenario lain "prolonged disruption scenario", menunjukkan ekonomi 2026 hanya akan tumbuh 2,1% sementara 2027 hanya akan 1,8%.
Hal ini, tulis OECD, akan mendorong beberapa ke dalam atau mendekati resesi dengan angka pengangguran meningkat. Inflasi global meningkat sebesar 0,4 poin persentase pada tahun 2026 dan 1,3 poin persentase pada tahun 2027, dengan tekanan positif dari kenaikan harga komoditas yang sebagian diimbangi oleh melemahnya permintaan akhir.
"Banyak negara di Asia yang akan terkena dampak buruk dari skenario ini, hal ini mencerminkan besarnya paparan mereka terhadap pasokan energi dari Timur Tengah," katanya.
"Suku bunga kebijakan kemungkinan akan naik dari tingkat saat ini pada tahun 2026, antara 50‑75 basis poin di sebagian besar negara untuk membantu memoderasi tekanan inflasi, dan kenaikan ini akan dihilangkan secara bertahap pada tahun 2027 seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap pertumbuhan," jelasnya.
"Tekanan terhadap anggaran meningkat karena melemahnya perekonomian dan tingginya biaya bunga atas penerbitan utang baru, yang berpotensi membatasi ruang yang tersedia untuk mengambil tindakan diskresi guna membantu menstabilkan aktivitas."
Sebenarnya tak hanya minyak dunia, ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi prospek dalam kedua skenario itu. Gangguan yang berkepanjangan terhadap pasokan energi dan produk energi dapat berdampak buruk pada investasi AI karena ketergantungan infrastruktur utama pada ketersediaan energi dan produk, seperti semikonduktor, yang bergantung pada masukan khusus dari negara-negara Teluk.
"Peningkatan lebih lanjut dalam pembatasan ekspor nasional untuk produk-produk utama yang pasokannya terbatas akan menambah ketidakpastian kebijakan dan memperparah dampak gangguan pasokan yang berkepanjangan dan kekurangan energi," muat laporan tersebut.
"Kemungkinan akan terjadi penyesuaian harga risiko (risk repricing) yang lebih luas di pasar keuangan dibandingkan yang terlihat selama ini, sehingga menambah tekanan yang signifikan terhadap beberapa lembaga keuangan non-bank yang mempunyai leverage tinggi seperti kredit swasta dan dana ekuitas," tambahnya.
"Biaya impor energi yang lebih tinggi dapat memperlebar defisit eksternal di negara-negara berkembang dan negara-negara pengimpor komoditas, sehingga memberikan tekanan pada cadangan dan kondisi pendanaan eksternal," jelas OEDC.
"Di sisi positifnya, keberlanjutan ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap guncangan yang ditunjukkan oleh sektor bisnis baru-baru ini, serta meningkatnya visibilitas potensi peningkatan produktivitas dari teknologi AI dapat mendorong pertumbuhan lebih tinggi, terutama pada tahun 2027."
(sef/sef)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494769/original/017852300_1770340983-IMG_4607_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495267/original/070964000_1770362176-collage-1770361735577.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)