Negara Ini Dapat 'Berkah' dari RI, Mata Uangnya Mengamuk Lawan Dolar

4 hours ago 8

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

04 June 2026 18:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Tembaga sedang menikmati masa keemasannya. Zambia mampu memaksimalkan berkah tembaga ini hingga membuat mata uang mereka ikut perkasa.

Dari pusat data kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, jaringan listrik, hingga proyek energi terbarukan, hampir seluruh sektor yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global membutuhkan logam berwarna kemerahan tersebut dalam jumlah besar.

Permintaan yang terus meningkat membuat harga tembaga bertahan di level tinggi. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga tembaga London Metal Exchange (LME) akhir 2026 menjadi US$13.735 per ton.

Bank investasi tersebut memperkirakan pasar akan tetap ketat karena pasokan tambang tumbuh lebih lambat dibanding kebutuhan industri. Di saat yang sama, Amerika Serikat juga tengah meninjau kebijakan tarif impor tembaga yang mendorong arus pengiriman logam ke pasar domestiknya.

Di tengah perlombaan global memperoleh pasokan tembaga, Zambia menghadapi persoalan berbeda. Pemerintah negara Afrika bagian selatan itu memperpanjang pembebasan bea ekspor 10% untuk konsentrat tembaga hingga 30 September 2026.

Kebijakan tersebut diberikan agar perusahaan tambang dapat mengirim stok konsentrat yang menumpuk selama fasilitas pengolahan dalam negeri menjalani perawatan dan perbaikan teknis.

Melansir Reuters, relaksasi tersebut mencakup 271.742 ton konsentrat tembaga. Kuota terbesar diberikan kepada Mopani Copper Mines sebesar 100.000 ton.

Lumwana Mining Company memperoleh jatah 56.986 ton, sementara First Quantum Minerals dan Nkana Mining and Minerals Processing masing-masing sekitar 43.000 ton. Lubambe Copper Mine mendapatkan kuota 15.000 ton dan Konkola Copper Mines sebanyak 12.541 ton.

Masalah yang dihadapi Zambia bukan berasal dari ketersediaan sumber daya. Berdasarkan data cadangan tembaga global 2024, Zambia memiliki cadangan sekitar 21 juta ton.

Angka tersebut menempatkannya di jajaran 10 besar dunia, setara dengan Indonesia. Cadangan Zambia bahkan lebih besar dibanding Kanada yang memiliki 8,3 juta ton serta India yang memiliki 2,2 juta ton.

Kapasitas sumber daya tersebut selama bertahun-tahun menjadikan Zambia salah satu produsen tembaga terbesar di Afrika.

Pada 2025 negara itu mengekspor 890.346 ton tembaga dan menargetkan produksi nasional mencapai 3 juta ton pada 2031. Ambisi tersebut lahir dari keyakinan bahwa permintaan global akan terus meningkat selama transisi energi dan digitalisasi berlangsung.

Besarnya ekspor tembaga ini juga tak bisa dilepaskan dari pasokan yang berkurang dari Indonesia.

Sebagai catatan, ekspor tembaga turun setelah insiden di PT Freeport Indonesia. Insiden longsor yang terjadi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) membuat kapasitas produksi tambang anjlok hingga hanya sekitar 30% dari kondisi normal. Gangguan operasional ini diperkirakan berdampak pada pasokan tembaga global, dengan potensi mengurangi sekitar 2,3% suplai tembaga dunia dan memicu kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan logam industri tersebut.

Zambia dengan cadangan tembaga besar memaksimalkan kekosongan itu.

Namun keberadaan cadangan besar tidak otomatis menjamin kelancaran rantai industri. Konsentrat yang keluar dari tambang masih harus melewati proses peleburan dan pemurnian sebelum berubah menjadi katoda tembaga, produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan menjadi komoditas utama perdagangan global. Ketika fasilitas smelter mengalami gangguan teknis, aliran produksi dari tambang kehilangan jalur pengolahan.

Kondisi tersebut terlihat jelas dalam kebijakan terbaru Lusaka. Pemerintah memilih membuka ruang ekspor konsentrat untuk mencegah penumpukan material di lokasi tambang.

Jika stok terus bertambah sementara kapasitas pengolahan belum pulih, aktivitas produksi berisiko melambat dan pendapatan perusahaan dapat tertekan. Di sisi lain, negara kehilangan peluang memperoleh nilai tambah yang biasanya muncul dari proses pemurnian.

Fenomena ini muncul pada saat pasar global sedang mengkhawatirkan pasokan tembaga jangka panjang.

Produksi dunia pada 2024 masih terkonsentrasi pada sejumlah negara. Chile memimpin dengan produksi 5,3 juta ton, disusul Republik Demokratik Kongo 3,3 juta ton dan Peru 2,6 juta ton.

China menghasilkan 1,8 juta ton, sementara Amerika Serikat dan Indonesia masing-masing sekitar 1,1 juta ton. Struktur produksi yang terkonsentrasi membuat gangguan operasional di negara produsen utama cepat menarik perhatian pasar.

Bagi investor komoditas, kasus Zambia memberikan gambaran mengenai tantangan yang sedang dihadapi industri tembaga global.

Fokus pasar selama ini lebih banyak tertuju pada cadangan tambang, eksplorasi baru, dan prospek permintaan dari AI maupun kendaraan listrik.

Sementara tingkat keberhasilan sebuah negara menangkap peluang harga tinggi sangat bergantung pada kelancaran fasilitas pengolahan yang berada di antara tambang dan pasar akhir.

Indonesia memiliki cadangan tembaga yang setara dengan Zambia, yakni sekitar 21 juta ton. Perbedaannya terletak pada arah kebijakan dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong peningkatan kapasitas pemurnian di dalam negeri.

Pengalaman Zambia memperlihatkan bahwa rantai industri tembaga tidak berhenti pada aktivitas penambangan. Ketahanan smelter, pasokan energi, perawatan fasilitas, serta kemampuan menjaga operasi tetap berjalan menjadi faktor yang menentukan seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari kekayaan mineral yang dimiliki.

Kebijakan Zambia di ekspor tembaga ikut menopang mata uang mereka. Kwaca menembus MZW 17,45/US$1, level ini adalah yang terkuat sejak 17 Maret 2023 atau lebih dari 2,5 tahun. 

Sepanjang tahun ini, Kwaca sudah melonjak 20,81% sementara pada 2025 melesat 20,58%.

Selain ekspor, Kwacha Zambia juga menjelma menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia pada awal 2026 setelah pemerintah dan bank sentral setempat membatasi penggunaan mata uang asing dalam transaksi domestik. Kebijakan yang berlaku sejak akhir Desember 2025 itu memicu lonjakan permintaan terhadap kwacha karena perusahaan dan pelaku usaha ramai-ramai menukar dolar AS yang mereka pegang ke mata uang lokal.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |