Multifinance RI Bisa Dapat Berkah dari Perang, Bos OJK Spill Alasannya

3 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang konflik antara negara di Timur Tengah yang menghambat pasokan minyak termasuk bahan bakar minyak (BBM) dapat menjadi peluang bagi perusahaan multifinance untuk memperluas portofolio ke kendaraan hijau.

"Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan BBM perlu dicermati sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia, sehingga industri multifinance dapat memperluas portofolio pembiayaan hijau," kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura Agusman dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

Ia mengatakan, minat masyarakat pada kendaraan listrik saat ini cukup besar. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan penyaluran pembiayaan kendaraan listrik yang cukup besar.

"Pada Februari 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance tumbuh 39,35% yoy menjadi Rp21,94 triliun," sebutnya.

Agusman merincikan, penyaluran pembiayaan multifinance pada kendaraan listrik didominasi oleh mobil yang tumbuh hingga di atas 80%. "Pembiayaan kendaraan roda empat listrik/hybrid sebesar 83,52% dengan nominal Rp18,32 triliun," imbuhnya.

Sebagai informasi, OJK memproyeksikan pertumbuhan piutang multifinance sebesar 6% hingga 8% pada tahun 2026. Agusman menilai, angka tersebut masih realistis untuk dicapai.

Ia menyebut segmen pembiayaan modal kerja diperkirakan masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan multifinance pada 2026, seiring kebutuhan masyarakat dalam pengadaan barang/jasa dan ekspansi usaha.

"Proyeksi pertumbuhan piutang 6%-8% pada 2026 dinilai realistis dengan mempertimbangkan antara lain target industri dan kondisi perekonomian. Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko," kata Agusman.

Ia memaparkan bahwa pada Januari 2026, penyaluran pembiayaan baru industri multifinance tercatat Rp78,16 triliun, didominasi multiguna dengan porsi 47,47%. Secara nominal, multiguna mencapai Rp37,10 triliun, investasi Rp18,72 triliun, dan modal kerja Rp17,04 triliun.

Sementara itu, pembiayaan kendaraan listrik pada Januari 2026 tumbuh 39,13% yoy menjadi Rp21,05 triliun, didorong peningkatan penjualan kendaraan listrik dan diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada 2026 sejalan tren elektrifikasi kendaraan.

Pada periode 2022-2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80% yoy. Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan roda empat tercatat sebesar Rp229,43 triliun. Kendaraan roda empat bekas mencatat rata-rata pertumbuhan lebih tinggi sebesar 12,75% yoy.

"Perusahaan dapat mengoptimalkan kedua segmen dengan memperluas jaringan dan menjaga kualitas pembiayaan," tutur Agusman.

Ia melanjutkan bahwa perbaikan pasar otomotif pada awal tahun menjadi sinyal positif bagi pembiayaan kendaraan, dengan prospek pertumbuhan positif pada 2026.

Sementara itu, dinamika kontraksi pada sebagian perusahaan dipengaruhi antara lain kondisi pasar dan strategi bisnis masing-masing, dengan pergerakan yang terus dimonitor melalui data terkini.

(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |