Mimpi Buruk Energi Dunia Jadi Kenyataan, Ekonomi Dunia Dipertaruhkan

3 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

04 March 2026 17:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang lebih panjang berarti guncangan ekonomi global yang lebih dalam.

Analis energi sejak lama mengantisipasi dua risiko besar jika perang melibatkan Iran. Pertama, serangan ke negara-negara tetangga yang kaya minyak. Kedua, penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sepertiga minyak laut dunia dan seperlima perdagangan LNG setiap hari.

Hingga 28 Februari, dua risiko ini dinilai kecil karena Iran mempertaruhkan terlalu banyak: hubungan dengan negara Teluk, kemarahan China sebagai pembeli utama minyaknya, serta potensi serangan balik ke infrastruktur energinya sendiri .

Situasi berubah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari dan menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Sisa rezim berada dalam tekanan besar. Dua skenario yang sebelumnya dianggap ekstrem kini berjalan bersamaan.

Proyektil Iran menghantam kilang terbesar Arab Saudi, fasilitas pencairan gas di Qatar, kilang di Kuwait, serta zona industri minyak Fujairah di Uni Emirat Arab. Dua fasilitas pertama dilaporkan berhenti beroperasi. Ladang gas di Israel dan Kurdistan juga terdampak. Pada 3 Maret, Kedutaan Besar AS di Arab Saudi memperingatkan potensi serangan lanjutan ke kompleks minyak Dhahran .

Di saat yang sama, lalu lintas Selat Hormuz nyaris terhenti setelah serangan drone terhadap sejumlah kapal. Perusahaan asuransi menghentikan perlindungan bagi banyak kapal. Pada 2 Maret, Garda Revolusi Iran menyatakan selat ditutup dan memperingatkan kapal yang melintas akan dibakar.

Harga energi langsung melonjak. Brent naik 14% sejak 27 Februari menjadi US$83 per barel. Harga gas Eropa mencapai €54 per MWh, lebih dari 70% di atas pekan sebelumnya.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?

Presiden AS Donald Trump pada Selasa (3/3/2026) menyatakan pemerintahannya akan menyediakan jaminan asuransi bagi perusahaan pelayaran dan, jika diperlukan, mengerahkan angkatan laut untuk mengawal tanker. Detail kebijakan belum jelas. Pernyataan ini muncul ketika pelaku pasar mulai menilai gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama .

Ketika pasar Asia dibuka kembali pada 2 Maret, respons awal relatif terkendali. Brent ditutup di US$78, hanya US$5 di atas posisi sebelum perang. Gas Eropa sempat melonjak, lalu ditutup di €44 per MWh. Mayoritas trader saat itu memperkirakan gangguan hanya berlangsung beberapa hari .

Pandangan itu kini berubah. Hambatan utama ada pada distribusi minyak. Tarif angkut mencetak rekor. Pada 2 Maret, hanya empat tanker melintasi Selat Hormuz, jauh di bawah rata-rata Februari sebanyak 52 kapal per hari.

Sekitar 14 juta barel per hari minyak mentah dan 4 juta barel produk olahan biasanya melewati jalur ini. Seperempat volume dapat dialihkan melalui pipa Arab Saudi dan UEA. Sisanya tidak memiliki jalur darurat.

Tanker yang melewati Selat HormuzFoto: The Economist
Tanker yang melewati Selat Hormuz

JPMorgan memperkirakan Irak memiliki ruang penyimpanan sekitar tiga hari dan Kuwait sekitar 14 hari sebelum harus memangkas ekspor yang biasanya melewati Hormuz. Totalnya mendekati 5 juta barel per hari atau sekitar 5% produksi global. Irak telah mengurangi produksi 1,5 juta barel per hari .

Eksportir Teluk belum menyatakan force majeure, namun pasar memperkirakan langkah itu segera diambil. Selisih harga Brent terhadap minyak Dubai melebar tajam. Pembeli Asia beralih ke Afrika Barat, Brasil, Guyana, Norwegia, dan Amerika Serikat. Pada 2 Maret, minyak Brasil untuk pengiriman Mei ke China ditawarkan dengan premi US$10 di atas Brent, naik dari US$3,40 pada 27 Februari .

Asia menjadi kawasan pertama yang terdampak. China, Jepang, dan Korea Selatan memiliki cadangan untuk beberapa bulan, tetapi tetap bergantung pada impor Timur Tengah. Minyak Teluk menyumbang sepertiga konsumsi China. Perdagangan kontrak berjangka minyak China sempat dihentikan setelah menyentuh batas kenaikan harian 9% .

Pasar mulai menghitung gangguan lebih dari satu atau dua pekan. Brent berpotensi mendekati US$100 per barel. Jika gangguan berlangsung berbulan-bulan, harga bisa melampaui US$120 seperti 2022.

Tambahan pasokan global diperkirakan hanya 1-2 juta barel per hari dan membutuhkan waktu setidaknya enam bulan untuk terealisasi. Eropa tetap terpapar karena seperlima impor dieselnya melewati Hormuz. Margin pengolahan diesel melonjak dalam beberapa hari terakhir .

Risiko pada gas dinilai lebih cepat terasa. Lebih dari 80 juta ton LNG per tahun, mayoritas dari Qatar, melewati Hormuz pada 2025. Kompleks Ras Laffan yang ditutup 2 Maret memiliki kapasitas 75 juta ton per tahun atau sekitar 17% ekspor global. Hampir 30 kapal yang dijadwalkan memuat LNG pada Maret kini berputar di Laut Arab dan Samudra Hindia. QatarEnergy telah mengirim pemberitahuan force majeure kepada sejumlah pembeli jangka panjang .

Tahun lalu, Qatar memasok 30% impor LNG China, 45% India, dan 99% Pakistan. Premi pengiriman LNG dari pantai Teluk AS ke Asia melonjak ke level tertinggi sejak Desember 2022. Pada 2 Maret, satu kargo Asia ditutup dengan premi 60% dibanding hari sebelumnya .

Setiap pekan Hormuz tertutup, pasokan global menyusut sekitar 1,5 juta ton LNG. Jika ekspor Qatar tidak pulih dalam waktu dekat, harga gas Eropa berpotensi menembus €100 per MWh.

Dana Moneter Internasional menggunakan asumsi bahwa setiap kenaikan 10% harga minyak memangkas pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global sekitar 0,15 poin persentase dan menambah inflasi 0,4 poin pada tahun berikutnya. Jika harga naik ke US$100 per barel, pertumbuhan global dapat terpangkas sekitar 0,4 poin dan inflasi bertambah 1,2 poin .

Negara pengimpor energi besar menghadapi tekanan paling berat. India menghabiskan sekitar 3% PDB untuk impor minyak dan memiliki cadangan 20-25 hari. Thailand mendekati 5% PDB. Dampaknya dapat tercermin dalam pelebaran defisit fiskal karena pemerintah menahan harga domestik melalui subsidi .

Bank Sentral Eropa memperkirakan kenaikan 10% harga minyak menambah inflasi 0,4 poin secara langsung dan 0,2 poin tambahan dalam tiga tahun. Sekitar sepersepuluh kenaikan harga gas akan diteruskan ke inflasi dalam setahun. Pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga .

Amerika Serikat menghadapi dampak ekonomi yang lebih ringan. Pasar gas domestik relatif terpisah dari harga global karena kapasitas ekspor terbatas. Harga gas Henry Hub naik sekitar 10%. Studi Federal Reserve Dallas menunjukkan kenaikan 10% harga minyak mentah meningkatkan harga bensin sekitar 5%. AS juga memiliki 415 juta barel dalam cadangan strategis.

Secara agregat, dampak ekonomi di AS diperkirakan terbatas karena sektor energi merupakan bagian kecil dari keranjang konsumsi dan produksi domestik tinggi. Namun tekanan politik bisa meningkat menjelang pemilu sela. Kenaikan harga energi memperbesar beban rumah tangga dan mempersulit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Trump menyatakan AS akan menjamin kelancaran aliran energi global. Pernyataan ini muncul ketika Iran berupaya menekan lawannya melalui pasar energi. Konflik di lapangan kini menjalar ke harga minyak dan gas dunia, dengan konsekuensi yang merembet ke pertumbuhan dan inflasi global .

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |