Mengenal "Setan" yang Dilepaskan Putin, Disebut Terkuat Sedunia

13 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memamerkan kekuatan nuklir Moskow di tengah perang Ukraina yang belum benar-benar berakhir. Pada Selasa lalu, Rusia menguji coba rudal balistik antarbenua terbaru RS-28 Sarmat, senjata yang oleh Barat dijuluki "Satan II", dan diklaim Kremlin sebagai rudal paling kuat di dunia.

Uji coba itu dilakukan hanya beberapa hari setelah Putin menyatakan perang Ukraina mulai mendekati akhir. Dalam pidatonya, Putin menyebut rudal nuklir generasi baru tersebut akan segera masuk layanan tempur pada akhir tahun ini sebagai bagian dari modernisasi besar-besaran arsenal nuklir Rusia.

"Ini adalah rudal paling kuat di dunia," kata Putin mengenai rudal Sarmat, dikutip Jumat (15/5/2026).

Ia menambahkan daya gabungan dari hulu ledak independen rudal tersebut "lebih dari empat kali lipat" dibandingkan rudal sejenis milik negara-negara Barat.

Sarmat dirancang untuk menggantikan rudal era Soviet Voyevoda yang sudah menua. Rudal itu merupakan bagian dari strategi Rusia memperbarui sistem persenjataan nuklirnya di tengah rivalitas yang terus memanas dengan Amerika Serikat dan NATO.

Rudal RS-28 Sarmat merupakan rudal balistik antarbenua berbasis darat yang dirancang untuk membawa senjata nuklir dengan jangkauan minimal 5.500 kilometer. Namun Putin mengeklaim kemampuan sebenarnya jauh melampaui itu.

Menurutnya, Sarmat memiliki jangkauan lebih dari 35.000 kilometer, lebih jauh dibandingkan sistem rudal Barat mana pun.

Putin juga mengklaim rudal tersebut mampu "menembus semua sistem pertahanan antirudal yang ada saat ini maupun di masa depan."

Meski demikian, para analis Barat memperkirakan jangkauan realistis Sarmat berada di sekitar 18.000 kilometer. Angka itu tetap cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Amerika Serikat langsung dari Rusia.

Sebagai gambaran, jarak Moskow ke New York sekitar 7.500 kilometer, sedangkan ke Phoenix, Arizona, sekitar 9.700 kilometer.

Jika klaim Putin soal jangkauan 35.000 kilometer benar, maka rudal itu secara teoritis bisa mencapai hampir seluruh target di planet ini.

Putin bahkan menyebut Sarmat memiliki kemampuan penerbangan suborbital, yakni dapat mencapai luar angkasa meski tidak cukup cepat untuk tetap berada di orbit Bumi secara penuh.

Rudal Sarmat sendiri mulai dikembangkan sejak 2011 dan akan menggantikan sekitar 40 rudal Voyevoda buatan Soviet.

Namun pengembangannya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu uji coba pada September 2024 dilaporkan berakhir dengan ledakan besar. Setelah peluncuran terbaru Selasa, Putin mengatakan Sarmat memiliki kekuatan setara Voyevoda tetapi dengan akurasi yang jauh lebih tinggi.

Menurut laporan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada April 2024, Sarmat memiliki kapasitas muatan maksimum mencapai 10 ton. CSIS menyebut rudal itu memiliki panjang 35,3 meter, diameter 3 meter, dan bobot mencapai 208,1 ton.

Sementara kantor berita Rusia Tass pada 2018 mengutip klaim Putin bahwa Sarmat dapat melesat sangat cepat dan mematikan mesinnya lebih awal dibandingkan rudal balistik tradisional.

Hal itu disebut memberi waktu yang jauh lebih sedikit bagi sistem pertahanan rudal lawan untuk mendeteksi, melacak, dan menembaknya jatuh.

Selain Sarmat, Rusia juga terus memperkenalkan sederet senjata generasi baru lainnya.

Adapun Moskow telah meluncurkan kendaraan luncur hipersonik Avangard yang diklaim mampu melaju 27 kali kecepatan suara. Sistem tersebut bahkan disebut sudah mulai dioperasikan.

Rusia juga mengembangkan rudal balistik jarak menengah Oreshnik yang mampu membawa senjata nuklir. Versi konvensional rudal itu sudah dua kali digunakan untuk menyerang Ukraina. Dengan jangkauan hingga 5.000 kilometer, Oreshnik disebut mampu menjangkau seluruh target di Eropa.

Putin juga mengumumkan Rusia kini berada pada "tahap akhir" pengembangan drone bawah laut nuklir Poseidon serta rudal jelajah Burevestnik yang menggunakan reaktor atom mini sebagai sumber tenaga.

Langkah Rusia memamerkan senjata-senjata baru ini disebut tidak lepas dari kekhawatiran Moskow terhadap sistem pertahanan rudal Amerika Serikat.

Putin menyebut pengembangan arsenal baru Rusia merupakan respons terhadap pembangunan perisai rudal AS setelah Washington keluar dari perjanjian pembatasan pertahanan rudal era Perang Dingin pada 2001.

Pada hari yang sama, Kantor Anggaran Kongres AS merilis analisis bahwa rencana Presiden Donald Trump membangun sistem pertahanan rudal baru bernama "Golden Dome" akan menelan biaya US$1,2 triliun dalam 20 tahun ke depan.

Perencana militer Rusia khawatir sistem pertahanan semacam itu dapat mendorong AS melakukan serangan nuklir pertama terhadap Rusia, dengan harapan sebagian besar arsenal nuklir Moskow bisa dihancurkan sebelum sempat membalas.

"Kami dipaksa mempertimbangkan bagaimana menjamin keamanan strategis kami dalam menghadapi realitas baru dan kebutuhan menjaga keseimbangan kekuatan strategis serta paritas," kata Putin.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |