Mata-Mata AS Pecah Kongsi, Intelijen soal Iran Berantakan

19 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Perseteruan antara dua lembaga intelijen utama Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada pengawasan konflik Iran. Badan Intelijen Pusat AS atau CIA dilaporkan menghentikan kontribusinya terhadap sejumlah penilaian intelijen yang disusun Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI), sehingga memicu kekhawatiran mengenai kualitas analisis keamanan nasional di tengah memanasnya situasi geopolitik.

Konflik internal tersebut telah berlangsung lebih dari setahun dan kini mengganggu koordinasi yang selama ini menjadi fondasi penyusunan laporan intelijen bagi Presiden Donald Trump dan para pembuat kebijakan AS.

"ODNI seharusnya menjadi minyak dalam sistem yang menjaga aliran arteri komunitas intelijen dan menghilangkan hambatan. Ketika itu tidak terjadi, lembaga-lembaga bisa kembali bekerja sendiri-sendiri dan meningkatkan risiko kegagalan intelijen," kata Beth Sanner, mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional pada masa pemerintahan Trump, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Iran menjadi salah satu isu yang paling terdampak. CIA tidak lagi berkontribusi secara penuh pada sejumlah penilaian intelijen yang disusun National Intelligence Council (NIC), badan analisis utama yang berada di bawah koordinasi ODNI dan selama ini menjadi rujukan penting pemerintah AS, terutama saat terjadi konflik atau perang.

Retaknya hubungan kedua lembaga terjadi ketika Washington tengah menghadapi sejumlah tantangan keamanan besar sekaligus, mulai dari konflik Iran, perang Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya aktivitas militer China. Dalam kondisi seperti itu, kolaborasi antar-lembaga intelijen menjadi krusial untuk memastikan para pengambil keputusan memperoleh gambaran ancaman yang utuh.

Sumber Reuters menyebut akar masalah bermula dari pembentukan Director's Initiatives Group oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard pada April 2025. Gugus tugas tersebut dibentuk untuk menyelidiki dugaan politisasi komunitas intelijen sekaligus menangani sejumlah isu sensitif, termasuk asal-usul Covid-19, keamanan mesin pemungutan suara, dan deklasifikasi dokumen pembunuhan Presiden John F. Kennedy.

CIA yang dipimpin Direktur John Ratcliffe menilai kelompok tersebut kerap mengabaikan prosedur standar dalam pembagian informasi intelijen dan proses deklasifikasi dokumen. Sebaliknya, pejabat ODNI menuduh CIA secara konsisten menghalangi akses gugus tugas tersebut terhadap data intelijen yang dibutuhkan.

Meski menghentikan kontribusi terhadap sebagian penilaian intelijen ODNI, CIA masih memiliki jalur lain untuk menyampaikan informasi kepada Gedung Putih. Salah satunya melalui Presidential Daily Brief, laporan intelijen rahasia yang setiap hari diberikan kepada presiden.

Juru bicara ODNI Olivia Coleman membantah adanya gangguan serius terhadap arus informasi intelijen. Menurut dia, Presiden Trump dan para pembuat kebijakan tetap menerima analisis terbaik dari komunitas intelijen AS.

"ODNI dan lembaga-lembaga yang diawasinya berkomunikasi dan berkolaborasi setiap hari dengan rekan-rekan CIA di seluruh spektrum produk dan operasi intelijen," ujar Coleman.

Sementara itu, Direktur Urusan Publik CIA Liz Lyons mengatakan badan tersebut tetap fokus menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional AS.

"Di bawah Direktur Ratcliffe, CIA dengan cepat mengambil risiko yang terukur untuk mengalahkan musuh-musuh Amerika dan memberikan keunggulan strategis bagi Amerika Serikat," katanya.

Hubungan kedua lembaga semakin memburuk setelah Gabbard mencopot dua pejabat senior CIA yang memimpin NIC pada Mei 2025. ODNI menuduh keduanya menciptakan lingkungan kerja yang buruk dan memiliki rekam jejak politisasi intelijen, meski tidak menyertakan bukti publik untuk mendukung tuduhan tersebut.

Ketegangan berlanjut ketika Gabbard mencabut izin keamanan 37 pejabat aktif dan mantan pejabat intelijen pada Agustus 2025. Langkah itu memicu kontroversi karena turut mengungkap identitas seorang agen CIA yang sedang bertugas secara rahasia di luar negeri.

Perselisihan tersebut kini bahkan menjadi objek penyelidikan oleh kantor inspektur jenderal komunitas intelijen AS. Di tengah konflik Iran yang masih berlangsung, keretakan hubungan CIA dan ODNI memunculkan kekhawatiran bahwa Washington tidak lagi memperoleh gambaran intelijen yang sepenuhnya terpadu, meningkatkan risiko kesalahan perhitungan dalam menghadapi salah satu konflik paling sensitif yang sedang dihadapi AS.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |