Jangan Sampai RI Seperti Thailand, Ditinggal Hengkang Mobil Jepang

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan peta industri otomotif di Asia Tenggara mulai terlihat. Thailand yang selama ini dikenal sebagai basis produksi otomotif Jepang kini menghadapi tantangan baru. Beberapa pemain besar mulai mengurangi aktivitas atau bahkan hengkang dari negara tersebut.

Misalnya pabrik Suzuki yang hengkang sejak tahun 2025 lalu. Sebelumnya, Subaru juga sudah mengumumkan penghentian operasi pabrik di Thailand.

Peneliti Senior ITB Agus Purwadi menilai fenomena ini harus menjadi alarm bagi Indonesia, apalagi diler-diler brand Jepang juga sudah mulai tutup.

"Thailand berarti sudah menular. Thailand itu banyak yang sudah player-player Jepang juga mulai angkat kaki ya," katanya dikutip, Jumat (17/4/2026).

Ia menyebut kondisi ini tidak lepas dari tekanan pasar, termasuk meningkatnya produk impor yang masuk. Situasi tersebut membuat daya saing industri lokal di Thailand ikut tergerus.

"Karena memang marketnya tadi ya lebih tinggi dari kita itu produk masuk impornya jadi masalah," ujar Agus.

Indonesia tidak boleh mengabaikan pelajaran dari negara tetangga tersebut. Berbagai kejadian di kawasan sebenarnya sudah memberikan banyak pembelajaran.

"Jadi sebetulnya kan sudah banyak lesson learned yang harus kita cermati dan kita sesuaikan dengan kondisi yang ada," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya respons cepat dari pemerintah agar Indonesia tidak mengalami hal serupa. Kondisi global yang penuh ketidakpastian juga memperbesar risiko tersebut.

"Apalagi kita di tengah uncertainty," lanjutnya.

Di tengah situasi ini, ia menilai kebijakan harus difokuskan pada ketahanan industri nasional.

"Nah, itu yang menurut saya harus policy-nya mengarah ke sana," sebut Agus.

Melansir automotiveworld, pabrikan mobil Jepang sebelumnya mendominasi sektor otomotif Thailand. Dalam artikel yang ditayangkan 27 Januari 2026 itu disebutkan, pada tahun 2020, Jepang sebelumnya menguasai 90% pangsa pasar di Thailand. Namun menyusut ke 70% pada tahun 2025.

Di saat bersamaan, pangsa pasar mobil China melonjak 4 kali lipat dibanding tahun 2022. Menyusul semakin agresifnya GWM, BYD, Changan, MG, hingga Chery masuk pasar Thailand.

Kondisi ini memaksa pabrikan Jepang semakin aktif mengkonsolidasikan operasinya di Thailand.

Sebelumnya Nikkei Asia di Mei 2025 juga menyebutkan hal senada. Pameran otomotif jadi ajang mobil-mobil China meraup pasar di Thailand.

Kondisi itu berbalik dari situasi sebelumnya. Dipimpin BYD, mobil-mobil China semakin menunjukkan taringnya lewat varian hybrid dan jenis lain selain mobil listrik (EV).

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |