Indonesia Ranking 3 Dunia Penyakit Kusta, Ada 16.000 Kasus

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi di dunia. Bahkan, Indonesia menempati peringkat ketiga global setelah India dan Brasil.

"Indonesia itu kalau penyakit menular biasanya rankingnya juara di dunia. TBC nomor dua, dan kusta ini nomor tiga di dunia," kata Budi dalam peringatan Hari Kusta Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Budi menyebut, pada tahun lalu jumlah kasus kusta di Indonesia tercatat sekitar 16.000 kasus. Penyakit ini selama ini kerap dikaitkan dengan negara miskin dan masih menghadapi stigma sosial yang kuat di masyarakat.

Budi bilang, kusta sering dianggap sebagai kutukan atau penyakit memalukan karena telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, ketika penyebabnya belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Padahal, secara medis penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang masih satu keluarga dengan bakteri penyebab tuberkulosis.

"Banyak orang malu melaporkan atau menemukan kasus karena ada stigma. Padahal ini penyakit yang jelas penyebabnya dan bisa diobati," ujarnya.

Untuk menekan penularan, Kementerian Kesehatan menyiapkan tiga strategi utama. Pertama, memperkuat surveilans atau penemuan kasus secara aktif. Budi bahkan meminta fasilitas kesehatan tidak takut melaporkan banyak kasus.

Ia menegaskan daerah atau puskesmas yang menemukan kasus terbanyak justru akan diberi penghargaan, karena hal tersebut menunjukkan upaya deteksi dini berjalan baik.

"Temukan sebanyak-banyaknya agar cepat diobati. Obatnya ada dan efektif," kata Budi.

Upaya penemuan kasus kusta juga akan dimasukkan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui pemeriksaan sederhana, tenaga kesehatan dapat mendeteksi gejala seperti bercak pada kulit dan gangguan sensasi.

Selain itu, khusus di wilayah Indonesia timur, pemerintah akan menambah pengawasan genomik untuk mendeteksi gen HLA-B13 yang dapat menyebabkan reaksi serius terhadap obat Dapsone, yaitu Dapsone Hypersensitivity Syndrome (DHS).

Strategi kedua adalah memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Pengobatan kusta umumnya berlangsung sekitar enam bulan dengan kombinasi antibiotik seperti rifampisin dan dapsone.

Strategi ketiga adalah melindungi kontak erat pasien melalui pemberian obat pencegahan berupa Single Dose Rifampicin Post-Exposure Prophylaxis (SDR-PEP). Obat ini diberikan sekali minum kepada orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak dekat dengan pasien.

"Kontak eratnya bisa sampai 20 orang. Semua kita beri profilaksis supaya penularannya berhenti," jelas Budi.

Tantangan penanganan kusta

Meski pengobatan dan pencegahan sudah tersedia, Budi menilai tantangan terbesar dalam penanganan kusta masih berasal dari stigma sosial yang membuat pasien sering dikucilkan.

"Ini bukan kutukan Tuhan. Ini penyakit seperti penyakit lain yang harus dirawat. Justru makin cepat ditemukan, makin cepat sembuh," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, mengatakan peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus menghapus diskriminasi terhadap pasien maupun penyintas kusta.

Tema global Hari Kusta Sedunia 2026 adalah "Leprosy is Curable, The Real Challenge is Stigma", sementara tema nasionalnya "Kusta: Temukan Dini, Obati Tuntas, Akhiri Stigma."

Dalam rangkaian peringatan tahun ini, pemerintah juga melakukan berbagai kegiatan seperti Active Case Finding di sejumlah daerah prioritas, lomba video edukasi untuk masyarakat, webinar bagi tokoh agama dan pendidik, serta pemberian penghargaan kepada puskesmas yang aktif menemukan kasus kusta. Pemerintah menargetkan berbagai upaya tersebut dapat mempercepat eliminasi kusta di Indonesia sekaligus menghilangkan stigma terhadap para penyintas.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |