IHSG-Rupiah Sudah Berdarah-darah, Hari Ini Bakal Lebih Menegangkan?

3 hours ago 3
  • Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, IHSG dan rupiah jatuh
  • Wall Street melemah di tengah kekhawatiran perang
  • Data ekonomi, kebijakan pemerintah serta isu rating akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri lunglai pada akhir perdagangan kemarin. Baik bursa  saham maupun rupiah kompak tertekan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hancur lebur pada  Rabu (3/6/2026). Dalam 5,5 jam perdagangan , IHSG mengalami guncangan hebat hingga membukukan sejumlah catatan buruk.

IHSG terpantau ditutup turun sebesar 4,11% ke level 5.941,07 dari penutupan hari sebelumnya, bahkan di tengah sesi perdagangan kedua IHSG sempat menyentuh level 5.842,00 terendah sejak 31 Mei 2021 pada era Covid-19 ketika virus Covid Delta marak di Indonesia.

Tekanan jual melanda hampir seluruh penjuru pasar saham Indonesia pada perdagangan hari ini. Sebanyak 692 saham atau sekitar 84% emiten ditutup di zona merah, sementara hanya 69 saham yang menguat dan 54 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp25,3 triliun dengan volume 40,2miliar saham, sementara kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.478 triliun. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 983,29 miliar.

Sektor bahan baku dan kesehatan menjadi yang paling terpukul dengan penurunan masing-masing 9,23% dan 6,37%. Dari sisi indeks, pelemahan terdalam berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Amman Mineral Internasional (AMMN), Telkom Indonesia (TLKM), dan Bank Mandiri (BMRI).

Di tengah gejolak tersebut, investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) Rp525,4 miliar, dengan BBCA dan Chandra Asri Pacific (TPIA) menjadi saham yang paling banyak dilepas.

Beralih ke pasar valas Nilai tukar rupiah ditutup anjlok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026) dan mencatatkan rekor level terendah baru.

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.940/US$.

Posisi ini menandai tembusnya level psikologis baru di Rp17.900/US$, sekaligus semakin mendekatkan rupiah ke level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah sudah berada dalam tekanan sejak pembukaan. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.870/US$, sebelum depresiasi semakin dalam hingga penutupan perdagangan.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari kemarin dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari global, dolar AS kembali menguat karena meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven setelah ketegangan di kawasan Teluk memanas. Komando Pusat AS menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan tersebut, sementara militer AS dilaporkan melakukan serangan balasan ke Pulau Qeshm. Kondisi ini mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, tekanan datang dari menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan April 2026 turun tajam menjadi sekitar US$90 juta dari US$3,32 miliar pada Maret 2026.

Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 juga merosot menjadi US$5,64 miliar dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

 Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) justru melemah ke 6,709% dari 6,716% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang melandai menandai adanya kenaikan harga yang didorong meningkatnya permintaan beli.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |