IHSG Ditutup Turun 1,7%, Pangkas Koreksi Jelang 15.00

10 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas koreksi signifikan menjelang pukul 15.00 WIB perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026).

Pada awal perdaganganIHSG sempat turun 5% ke level 5.644,23. Kemudian pada akhir sesi 1, IHSG turun 3,48% ke level 5.734,26.

Menjelang pukul 15.00 WIB, IHSG memangkas koreksi dengan signifikan hingga akhirnya menutup perdagangan di level 5.839,78 atau -1,7%. 

Sebanyak 651 emiten di zona merah, 116 naik, dan 192 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 25,11 triliun, melibatkan 35,5 miliar saham dalam 2,24 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bertengger di level Rp 10.263 triliun. 

Mengutip Refinitiv, pemberat utama IHSG hari ini adalah Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang memiliki bobot -14,11 poin. Kemudian diikuti oleh Bank Central Asia (BBCA) -9,37 poin dan Barito Pacific (BRPT) -8,44 poin. 

Di sisi lain, Sinar Mas Multiartha (SMMA) menjadi penopang utama IHSG dengan kontribusi 7,11 poin. Lalu diikuti oleh Amman Mineral Internasional (AMMN) 5,77 poin dan Telkom Indonesia (TLKM) 5,22 poin.  

Sementara itu, investor asing mencatatkan aksi beli bersih di tengah tekanan besar yang menghantam pasar saham domestik. Pada perdagangan sesi I investor asing membukukan net buy sebesar Rp179 miliar, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam tekanan berat.

Data perdagangan menunjukkan asing membukukan total beli Rp6,1 triliun dan jual Rp5,9 triliun, sehingga menghasilkan net buy Rp179 miliar.

Adapun penurunan indeks secara berkelanjutan ini mengonfirmasi bahwa IHSG telah terperosok kembali dan menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir.

Koreksi lanjutan pada indeks acuan ini masih dipicu oleh akumulasi sentimen makroekonomi dan institusional yang belum mereda. Efek dari penurunan prospek (outlook) Danantara Investment Management pada hari sebelumnya terus memberikan tekanan pada preferensi risiko investor institusional.

Tekanan di pasar ekuitas ini berjalan beriringan dengan depresiasi nilai tukar Rupiah yang kini telah menembus level psikologis baru, yakni di angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Tingkat kerentanan bursa saham saat ini berada pada fase yang krusial, mengingat publikasi pemeringkatan dari S&P Global Ratings-yang rumornya telah memicu aksi jual-belum dirilis secara resmi. Di samping itu, volatilitas pasar juga didorong oleh sikap antisipatif investor menjelang dua agenda penting dari MSCI.

Lembaga penyedia indeks global tersebut dijadwalkan akan mempublikasikan Market Accessibility Review pada tanggal 19 Juni, yang kemudian akan disusul oleh pengumuman Classification Review pada tanggal 24 Juni.

Risiko yang mengiringi potensi penyesuaian evaluasi dan klasifikasi dari MSCI tersebut secara logis mendorong investor, khususnya pemodal asing, untuk mempercepat langkah mitigasi dengan mengurangi eksposur aset berisiko di pasar modal Indonesia sebelum pengumuman dilakukan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa hingga saat ini status Indonesia di indeks MSCI masih berada dalam kategori emerging market. Penegasan ini disampaikan untuk menjawab kabar yang beredar di pasar mengenai dugaan penurunan status Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengimbau investor untuk selalu mengambil keputusan investasi berdasarkan informasi yang akurat. Menurutnya kabar yang beredar mengenai status Indonesia di MSCI merupakan informasi yang salah.

"Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar. Seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Yang ternyata itu adalah informasi yang salah," tegas Jeffrey kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta, Kamis, (4/6/2026).

(mkh/mkh)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |