IHSG Berdarah-darah, Dividen Saham Masih Layak Diburu?

3 hours ago 7

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

04 June 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru saja ditutup melemah lagi menuju level 5.941,07, mencatatkan penurunan sebesar 4,11% dari perdagangan hari sebelumnya.

Indeks telah turun secara signifikan sejak awal tahun di mana penurunan telah terjadi sebesar -31,29%. Hal ini dipicu mulai dari isu MSCI pada Januari 2026 dilanjutkan dengan hantaman perang Iran-AS pada Maret 2026 menyebabkan penurunan cukup signifikan hingga hari ini.

Di tengah pergerakan indeks secara keseluruhan, terdapat sebuah pola valuasi menarik yang saat ini sedang terbentuk pada sejumlah saham berkapitalisasi menengah hingga besar.

Evaluasi terhadap data pasar menunjukkan bahwa tingkat imbal hasil dividen saat ini berada pada posisi yang jauh lebih atraktif jika dikomparasikan dengan kondisi dua tahun silam.

Tingginya tingkat pengembalian dividen ini secara langsung mengindikasikan bahwa harga saham-saham berfundamental kuat tersebut sedang berada pada fase terdiskon yang sangat signifikan.

Data perbandingan imbal hasil dividen ini diambil secara spesifik menggunakan patokan harga saham pada penutupan tanggal cum dividen final dari masing-masing emiten.

Berdasarkan kalkulasi dari sepuluh emiten lintas sektor, rata-rata tingkat pengembalian dividen saat ini telah mencapai level 10,11%. Angka ini merupakan sebuah anomali positif bagi para investor yang berorientasi pada aliran kas, mengingat valuasi saham yang saat ini sedang tertekan justru memberikan peluang akumulasi dengan potensi imbal hasil yang maksimal.

Berikut adalah rekapitulasi data tingkat imbal hasil dividen emiten pada saat ini:

Kompensasi Menarik di Tengah Tren Diskon Valuasi

Menganalisis lebih dalam mengenai struktur valuasi saat ini, rata-rata tingkat pengembalian dividen sebesar 10,11% merupakan sebuah lompatan material jika dibandingkan dengan data historis.

Bila menarik data dari periode dua tahun lalu, rata-rata tingkat pengembalian dividen dari kesepuluh emiten yang sama hanya bertengger di level 5,98%. Kondisi ini mengonfirmasi bahwa investor di pasar saat ini mendapatkan kompensasi berupa dividen yang jauh lebih tebal sebagai akibat dari harga saham yang jauh lebih terjangkau.

Sebagai contoh nyata, saham emiten perbankan seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kini mencatatkan tingkat pengembalian dividen yang sangat masif, yakni masing-masing mencapai 11,78% dan 11,93%.

Situasi ini sangat kontras dengan pembukuan dua tahun lalu, di mana tingkat pengembalian dividen BMRI hanya berada di level 4,86% dan BBRI sebesar 4,98%.

Peningkatan yield ini tidak berarti emiten secara tiba-tiba membagikan kas yang terlampau besar secara nominal, melainkan pendorong utamanya adalah koreksi harga pasar saham reguler yang secara matematis melambungkan persentase dividen terhadap harga beli.

Berikut adalah data historis tingkat imbal hasil dividen dari emiten yang sama pada periode dua tahun lalu sebagai referensi perbandingan:

Rasionalisasi Pengecualian Emiten Sektor Komoditas

Dalam menyusun daftar komparasi emiten di atas, sektor komoditas sengaja dieksklusi secara penuh. Keputusan analitis ini diambil dengan mempertimbangkan bahwa harga saham komoditas secara fundamental memiliki tingkat volatilitas yang terlalu tinggi.

Pergerakan harganya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga acuan komoditas global, sehingga memasukkannya berisiko mendistorsi rata-rata imbal hasil pasar secara keseluruhan.

Selain faktor volatilitas, kinerja keuangan emiten sektor komoditas pada tahun buku 2023 masih sangat diwarnai oleh siklus commodity windfall. Lonjakan laba yang tidak biasa tersebut merupakan imbas langsung dari disrupsi rantai pasok global akibat tensi geopolitik dan kondisi perang, seperti yang terjadi di wilayah Ukraina dengan Rusia pada saat itu.

Embargo oleh AS kepada negara-negara di daerah Eropa untuk melakukan pemberhentian impor segala jenis komoditas dari Rusia menciptakan tekanan harga komoditas global yang cukup signifikan salah satunya adalah batu ara.

Ekstraksi keuntungan dari kondisi makroekonomi eksternal tersebut membuat rasio dividen saham komoditas melambung secara artifisial dan tidak berkesinambungan.

Oleh karena itu, menggunakan emiten sektor non-komoditas dinilai jauh lebih relevan, informatif, dan mampu mencerminkan kondisi valuasi pasar saham yang sesungguhnya secara lebih objektif.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |