IHSG Ambruk 2% Terimbas Perang Iran, Ini 10 Saham Paling Jeblok

6 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

02 March 2026 09:38

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tampaknya sudah merembet pada psikologis investor di pasar modal domestik. Hal dapat dilihat dengan penurunan IHSG setelah pembukaan pasar hingga -2,26% di level 8045,79.

Meningkatnya risiko ketidakpastian global mendorong pelaku pasar untuk melakukan penyesuaian portofolio, yang memicu aksi jual (sell-off) pada hampir sebagian besar saham di bursa efek Indonesia (BEI).

Dinamika penghindaran risiko  ini terlihat dari daftar saham dengan penurunan terdalam (top losers) yang disertai dengan nilai transaksi keluar yang cukup signifikan pada perdagangan hari ini berdasarkan data Senin (2/3/2026) pukul 09.15 WIB.

Berdasarkan data pasar yang ada, sejumlah saham mengalami koreksi tajam mendekati atau menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) harian. Berikut adalah rincian 10 saham top losers dengan nilai transaksi terbesar:

Melihat data di atas, saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memimpin antrean pelemahan dengan nilai transaksi yang sangat masif, mencapai Rp111,60 miliar. Penurunan sebesar 9,81% dengan volume transaksi sebesar itu mengindikasikan adanya distribusi yang kuat. Di tengah kepanikan pasar global, pemodal besar kerap mengamankan likuiditas dari saham-saham dengan pergerakan yang fluktuatif.

Selain BNBR, tren yang cukup mencolok terlihat pada saham-saham di sektor media dan hiburan. Emiten seperti PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), hingga PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) mendominasi daftar pelemahan dengan koreksi berkisar antara 9% hingga nyaris 12%.

Tekanan jual pada sektor ini merupakan respons logis di saat kondisi makro sedang tidak stabil ini, investor cenderung membuang saham-saham berbeta tinggi atau sekunder terlebih dahulu untuk merelokasi dananya ke instrumen tunai atau aset yang lebih defensif seperti saham emas maupun minyak.

Saham lainnya seperti TRUE, YELO, BELL, KOTA, dan IBOS juga tidak luput dari tekanan jual. Fenomena ini menggarisbawahi tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap sentimen eksternal akibat tensi yang terjadi di Iran.

Selama ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas di bursa domestik diperkirakan akan tetap tinggi. Pelaku pasar saat ini memprioritaskan capital preservation dibandingkan mengambil risiko lebih di tengah ketidakpastian arus modal asing.

Walaupun berdasarkan sejarah pada Juni 2025 penurunan hanya akan terjadi 2 hingga 3 hari saja, namun eskalasi pada saat ini dinilai lebih tinggi dan dapat memicu aksi jual tambahan mengingat potensi probabilitas memanasnya tensi geopolitik yang sedang terjadi saat ini masih tergolong sangat tinggi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |