- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, IHSG dan rupiah ambruk
- Wall Street berakhir beragam, Dow Jones fekor
- Data ekonomi dan perkembangan terbaru kebijakan pemerintah akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kembali babak belur pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama melemah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada Kamis (4/6/2026) di awal perdagangan IHSG sempat turun 5% ke level 5.644,23. Kemudian pada akhir sesi 1, IHSG turun 3,48% ke level 5.734,26.
Menjelang pukul 15.00 WIB, IHSG memangkas koreksi dengan signifikan hingga akhirnya menutup perdagangan di level 5.839,78 atau -1,7%.
IHSG kembali ditutup melemah di tengah tekanan jual yang meluas.
Sebanyak 625 saham berada di zona merah, sementara hanya 106 saham menguat dan 85 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp25,11 triliun dengan volume 39,7 miliar saham dalam 2,29 juta kali transaksi, sedangkan kapitalisasi pasar tercatat Rp10.284 triliun.
Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 1,27 triliun.
Pelemahan indeks terutama dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) meski sebagian tekanan berhasil ditahan oleh penguatan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM
Koreksi berkelanjutan tersebut membawa IHSG kembali ke level terendah dalam setahun terakhir. Tekanan pasar dipengaruhi oleh akumulasi sentimen negatif, mulai dari dampak penurunan outlook Danantara Investment Management, pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS, hingga kekhawatiran menjelang publikasi Market Accessibility Review dan Classification Review MSCI pada 19 dan 24 Juni mendatang.
Rumor mengenai potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market turut memperburuk sentimen, meski Bursa Efek Indonesia menegaskan informasi tersebut tidak benar dan status Indonesia di MSCI hingga saat ini masih berada dalam kategori emerging market.
Beralih ke pasar valas, Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda kembali mencatatkan level terburuk sepanjang sejarah.
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi ini sekaligus menegaskan bahwa rupiah telah menembus level psikologis baru di Rp18.000/US$.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960/US$. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata uang Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000/US$ dan bertahan di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan.
Pelemahan rupiah yang semakin dalam turut direspons oleh pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengucurkan dana lebih dari Rp8 triliun untuk stabilisasi pasar obligasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Caranya dengan membeli kembali atau buyback Surat Utang Negara (SUN) yang dilepas investor asing.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berupaya menjaga stabilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melesat ke 6, 8% atau posisi tertinggi sejak 18 Mei 2026. Imbal hasil yang tinggi menandai adanya penurunan harga SBN karena ada aksi jual masif.
source on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494769/original/017852300_1770340983-IMG_4607_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495267/original/070964000_1770362176-collage-1770361735577.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)