Hitung-hitungan Harga BBM per Besok 1 September 2025, Bakal Berubah?

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan kembali turun atau stagnan per 1 September 2025 jika melihat tren pergerakan harga minyak dunia yang melandai.

Harga minyak mentah dunia melandai sepanjang Agustus 2025 sementara nilai tukar rupiah justru ambruk.

Kedua indikator ini krusial dalam menentukan menentukan harga BBM non-subsidi di Indonesia.

Menurut data Refinitiv, rata-rata harga minyak brent berada di angka US$ 67,26 per barel pada Agustus 2025, anjlok 3,3% dibandingkan rata-rata di Juli 2025 yang sebesar US$ 69,55 per barel.

Harga minyak brent bahkan sempat menyentuh US$ 65,53 pada 13 Agustus 2025, terendah sejak Juni 2025.

Sementara itu, rata-rata harga minyak WTI mencapai US$ 64,02 per barel di Agustus 2025 atau jeblok 4,8% dibandingkan rata-rata Juli (US$ 67,23).

Pergerakan harga minyak dunia sepanjang Agustus dibayangi oleh perang dagang, pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (the Fed), serta keputusan OPEC+.

Di awal Agustus, harga minyak jeblok setelah OPEC+ mengumumkan kenaikan produksi hingga 547.000 barel per hari (bph) untuk September.

Harga minyak dunia bergerak naik pada pertengahan Agustus didorong sentimen geopolitik menjelang pertemuan Trump dengan Putin di Alaska. Pasar menilai pertemuan ini berpotensi meningkatkan premi risiko di pasar energi.

Trump sebelumnya mengancam akan memberikan "konsekuensi berat" jika Putin tidak menyepakati perdamaian di Ukraina. Meski tanpa merinci, Trump menyebut sanksi ekonomi menjadi opsi bila negosiasi pada Jumat besok gagal. Pernyataan ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan dari Rusia.

Namun, pertemuan ini justru lebih kondusif dari perkiraan sehingga harga minyakpun kembali jatuh.

Harga minyak kembali menanjak setelah Trump mengancam pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook serta penantian pertemuan tahunan The Fed di Jackson Hole pada Jumat (22/8/2025).

Pernyataan Chairman The Fed Jerome Powell yang mengisyaratkan pemangkasan membuat harga minyak menguat.


Sementara itu, nilai tukar rupiah sangat volatile pada Agustus tahun ini. Rupiah menguat tajam di awal bulan karena derasnya aliran inflow dari investor asing. Namun, rupiah mulai melandai setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga pada 20 Agustus 2025.

Mata uang Garuda semakin tertekan menjelang akhir bulan karena memanasnya aksi demo di sejumlah daerah di Indonesia.

Bagaimana Harga BBM September?


Sebagai catatan, pemerintah menentukan harga BBM berdasarkan formulasi tertentu. Dua variabel akan dipakai yakni rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah mengingat besarnya impor.

Keputusan Menteri ESDM Nomor 19 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak menjelaskan formula harga menggunakan rata-rata harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS) dengan satuan USD/barel periode tanggal 25 pada 2 bulan sebelumnya sampai dengan tanggal 24, 1 bulan sebelumnya untuk penetapan bulan berjalan.

Merujuk Refinitiv, rata-rata harga minyak brent pada dua bulan terakhir (Agustus-Juli 2025) adalah sebesar US$68,41barel. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan pada dua bulan sebelumnya (Juli-Juni 2025) sebesar US$69,67 per barrel.


Sementara itu, rata-rata harga minyak WTI pada dua bulan terakhir (Agustus-Juli 2025) adalah sebesar US$65,63/barel. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan pada dua bulan sebelumnya (Juli-Juni 2025) sebesar US$67,47 per barrel.

Rata-rata Agustus-Juli 2025 lebih rendah dibandingkan Juli-Juni 2025 karena harga minyak yang lebih rendah sepanjang Agustus.
Sebaliknya, nilai tukar rupiah cenderung melemah yang berdampak pada mahalnya biaya impor.
Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan pelemahan dan harga minyak turun maka harga BBM berpotensi turun atau stagnan per 1 September 2025.

Sebagai catatan, pemerintah menurunkan harga BBM non-subsidi secara moderat pada April-Mei 2025, kemudian kembali menurunkannya pada Juni 2025 secara lebih signifikan. Pada Juli 2025, pemerintah menaikkan harga BBM dan kemudian menurunkan sebagian harga BBM pada 1 Agustus 2025.

Sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), Shell Indonesia, BP-AKR hingga PT Vivo Energy Indonesia kompak menurunkan harga produk BBM non subsidi di awal Agustus.

Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak pada 1 Agustus 2025.
Sebagai contoh Pertamina, untuk wilayah DKI Jakarta harga BBM Pertamax atau RON 92 turun menjadi Rp12.200 per liter dari yang sebelumnya dipatok Rp12.500 per liter.

Selanjutnya, harga Pertamax Turbo juga turun dari yang sebelumnya Rp13.500 per liter menjadi Rp13.200 per liter. Sementara harga Pertamax Green atau RON 95 juga turun menjadi Rp13.000 per liter dari yang sebelumnya Rp13.250 per liter.

Namun, harga BBM jenis solar seperti Dexlite (CN 51) justru mengalami kenaikan menjadi Rp13.850 per liter dari yang sebelumnya Rp13.320 per liter. Begitu juga dengan Pertamina Dex (CN 53) naik menjadi Rp14.150 per liter dari sebelumnya Rp13.650 per liter.

(mae/mae)

Read Entire Article
Photo View |