Gimana Saham Konglo Saat RI Mencekam? Begini Kondisinya

7 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, di mana gelombang protes mewarnai hampir seluruh daerah di Indonesia.

Bentuk kekecewaan diungkapkan melalui aksi demonstrasi yang sudah mulai sejak Senin (25/8/2025) awal pekan ini dan berlanjut hingga hari ini.

Demonstrasi yang berawal dari tuntutan buruh ini kemudian berkembang besar setelah seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta pada Kamis lalu. Insiden ini terekam jelas, korban terjatuh, Baracuda terus melaju tanpa berhenti, dan suasana ricuh berubah jadi tragedi.

Gejolak aksi massa yang masih terus terjadi hingga hari ini membuat pelaku pasar makin khawatir karena hal ini dapat berimbas kepada perekonomian Indonesia di bulan atau kuartal berikutnya.

Saat gejolak makin memanas pada Kamis hingga Jumat pekan ini, saham-saham terutama berkapitalisasi pasar besar (big cap) pun berjatuhan dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya sempat mencetak rekor baru, kemudian langsung ambruk.

Beberapa saham konglomerat big cap pun terimbas dari gejolak di Indonesia saat ini. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, terpantau hanya tiga saham konglomerat yang masih mampu menguat yakni saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI).

Sementara dalam sepekan terakhir, juga ada tiga saham konglomerat yang juga masih mampu menguat, di mana salah satunya yakni saham DSSA yang melonjak 25,85% sepanjang pekan ini.

Berikut pergerakan saham konglomerat pada pekan ini, di tengah gejolak yang makin memanas di masyarakat.

Pasar saham Tanah Air sempat tersungkur pada perdagangan Kamis lalu, di tengah aksi demonstrasi di depan Markas Satuan Brimob Polda Metro Jaya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang mulai memanas.

Aksi demo pun makin mewarnai sejumlah daerah di Indonesia hingga hari ini. Demonstrasi sudah mulai sejak Senin awal pekan ini dan berlanjut pada Kamis, bahkan hingga hari ini.

Demonstrasi yang berawal dari tuntutan buruh ini kemudian berkembang besar setelah seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta pada Kamis lalu.

Insiden ini terekam jelas, korban terjatuh, Baracuda terus melaju tanpa berhenti, dan suasana ricuh berubah jadi tragedi.

Aksi ini memicu reaksi keras dari masyarakat hingga menyulut demo di sejumlah daerah. Aksi demo terutama terpusat di depan gedung DPR/MPR, Maki Brimob, Polda Metro Dajaya, kantor polisi daerah hingga Gedung perwakilan rakyat di daerah.

Protes masyarakat atau yang akrab disebut demonstrasi tidak terlepas dari proses politik sebuah negara. Terlebih bagi negara demokrasi, demonstrasi merupakan salah satu aspek penting bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya.

Namun, jika gejolak tidak dapat diredam dengan cepat oleh pemerintah, maka akan berdampak negatif ke pasar keuangan, termasuk pasar saham.

Ketidakpastian yang makin meninggi berpotensi menggerus pasar saham Tanah Air, karena investor semakin takut untuk berinvestasi di Indonesia. Jika aksi makin memanas di hari berikutnya, bukan tidak mungkin IHSG makin tergerus jika pemerintah tidak melakukan upaya penanganan dengan cepat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Read Entire Article
Photo View |