Harga Minyak Ambruk! Pasar Yakin AS-Iran Segera Damai

1 hour ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia ambruk pada perdagangan Senin pagi (25/5/2026), terseret optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan bahwa jalur energi vital Selat Hormuz akan kembali dibuka membuat pelaku pasar buru-buru melepas posisi beli yang sebelumnya dibangun selama konflik Timur Tengah memanas.

Mengacu data Refinitiv pada pukul 09.40 WIB, harga Brent kontrak Juli (LCOc1) berada di level US$ 98,97 per barel. Posisi ini anjlok dibanding penutupan Jumat pekan lalu di US$ 103,54 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI/CLc1) tercatat di US$ 96,6 per barel.

Koreksi tersebut memperpanjang pelemahan minyak setelah sebelumnya Brent sempat menyentuh US$ 112,1 per barel pada 18 Mei. Artinya, dalam sepekan lebih sedikit, Brent sudah longsor lebih dari 11%.

Tekanan muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan Washington dan Teheran telah "largely negotiated" atau sebagian besar menyelesaikan memorandum kesepahaman terkait perdamaian. Pasar langsung membaca sinyal itu sebagai peluang terbukanya kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global.

Reuters melaporkan Brent sempat jatuh lebih dari 4% ke US$ 98,83 per barel pada perdagangan Asia dan menjadi posisi terendah dalam dua pekan terakhir. WTI pun tertekan lebih dari 4% ke area US$ 92 per barel.

Meski demikian, jalan menuju normalisasi pasokan energi global masih panjang. Trump pada Minggu waktu setempat mengatakan dirinya meminta tim negosiasi AS agar tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan dengan Iran. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa masih ada sejumlah isu besar yang belum menemukan titik temu.

Pasar kini berada dalam fase tarik-menarik antara harapan damai dan realitas gangguan pasokan yang belum selesai. Selat Hormuz memang berpotensi dibuka kembali, namun kerusakan infrastruktur energi selama konflik membuat distribusi minyak tidak bisa langsung pulih dalam hitungan hari.

Analis MST Marquee Saul Kavonic mengatakan mulai muncul "cahaya di ujung terowongan" bagi pasar minyak. Namun ia mengingatkan risiko tetap besar karena implementasi perdamaian dan pemulihan jalur energi membutuhkan waktu panjang.

Kehati-hatian itu terlihat dari respons pasar global lain. Bursa saham berjangka AS menguat karena investor mulai kembali masuk ke aset berisiko. Di sisi lain, dolar AS dan minyak melemah akibat ekspektasi meredanya tekanan geopolitik.

Strategis Commonwealth Bank of Australia menilai fokus pasar saat ini bergeser ke dua pertanyaan besar kapan Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali, serta berapa lama fasilitas produksi dan infrastruktur energi di Timur Tengah dapat kembali ke kapasitas sebelum perang.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |