Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena tak biasa terdeteksi di Antartika pada awal Maret 2026. Citra satelit dari program Copernicus milik Badan Antariksa Eropa (ESA) menunjukkan perubahan warna es menjadi hijau.
Kejadian ini segera menarik perhatian para ilmuwan, yang langsung melakukan penyelidikan.
Temuan ini berasal dari pemantauan satelit Sentinel-2 dan Sentinel-3 yang selama ini digunakan untuk mengamati perubahan lingkungan Bumi.
Awalnya, warna hijau pada hamparan es tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Namun, hasil investigasi mengungkap bahwa fenomena ini bukanlah ancaman, melainkan bagian dari siklus alami.
Program Copernicus menjelaskan, warna hijau tersebut berasal dari ledakan populasi fitoplankton, organisme mikroskopis yang menjadi fondasi rantai makanan laut.
Mengutip Daily Galaxy, munculnya fitoplankton menandai musim semi di kawasan Antartika, ketika sinar matahari kembali setelah periode malam kutub yang panjang.
Ketika es mulai mencair, nutrisi yang terperangkap dilepaskan ke laut, menciptakan kondisi ideal bagi fitoplankton untuk berkembang pesat.
Proses ini terjadi secara rutin setiap tahun dan menjadi indikator penting bahwa ekosistem laut di wilayah tersebut masih dalam kondisi sehat.
Citra satelit juga membuka peluang baru bagi para ilmuwan untuk memantau arus laut serta distribusi kehidupan laut dari luar angkasa, termasuk di wilayah terpencil yang sulit dijangkau secara langsung.
Copernicus menyebut, pengamatan ini membantu peneliti memahami dinamika ekosistem laut di belahan selatan serta menilai dampak perubahan lingkungan terhadap keseimbangan alam.
Meski tampak tidak biasa, fenomena es hijau justru menjadi sinyal positif. Semakin banyak fitoplankton berarti siklus nutrisi di Samudra Selatan berada dalam kondisi seimbang, menandakan lingkungan laut yang sehat.
(fab/fab)
Addsource on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)