Bukti China Jadi Negara Pemenang, Mampu Bertahan Tanpa Selat Hormuz

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika banyak negara Asia cemas menghadapi potensi penutupan jalur vital minyak dunia di Selat Hormuz, posisi China justru dinilai relatif lebih aman. Negara yang merupakan importir minyak terbesar melalui jalur tersebut justru dianggap sebagai salah satu yang paling siap menghadapi gangguan pasokan energi.

China mengonsumsi minyak dalam jumlah sangat besar dari kawasan Teluk dan mengimpor hampir sebanyak gabungan impor India, Jepang, dan Korea Selatan. Namun ketika negara-negara Asia lain meminta warganya menghemat energi, mulai dari mandi lebih singkat hingga bekerja dari rumah, media resmi Partai Komunis China justru menyatakan bahwa negara tersebut memiliki "mangkuk nasi energi" sendiri.

Editorial tersebut tidak menyebutkan bahwa Beijing secara tidak resmi membatasi ekspor bahan bakar untuk menghemat pasokan. Meski demikian, China dinilai lebih terlindungi dibanding banyak negara tetangganya berkat kebijakan bertahun-tahun yang mengurangi kerentanan terhadap guncangan energi.

China memiliki armada kendaraan listrik yang hampir setara dengan gabungan seluruh dunia, cadangan minyak yang besar dan terus bertambah, pasokan energi yang terdiversifikasi, serta jaringan listrik yang hampir sepenuhnya mandiri berkat batu bara domestik dan energi terbarukan.

Menurut Lauri Myllyvirta, co-founder Centre for Research on Energy and Clean Air, situasi saat ini sesuai dengan perencanaan jangka panjang China.

"Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah direncanakan para perencana China selama beberapa dekade," katanya, dilansir Reuters, Kamis (2/4/2026). "Ini memvalidasi dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang diangkut melalui laut."

Pada akhir 2020, Beijing menargetkan pembelian kendaraan listrik mencapai 20% dari penjualan mobil baru pada 2025. Namun, tahun lalu penjualan kendaraan listrik sudah mencapai setengah dari seluruh kendaraan baru.

Ledakan tak terduga ini membuat konsumsi bahan bakar China mencapai puncaknya setelah puluhan tahun tumbuh pesat. Negara tersebut kini membakar dan mengimpor lebih sedikit minyak dibanding perkiraan beberapa tahun lalu.

Minyak yang digantikan oleh kendaraan listrik tahun lalu diperkirakan setara dengan volume impor China dari Arab Saudi, menurut estimasi lembaga riset energi di Finlandia tersebut.

Jaringan listrik China juga hampir sepenuhnya ditopang batu bara domestik dan energi terbarukan yang berkembang pesat. Pertumbuhan energi bersih bahkan melampaui target Beijing, sehingga hampir seluruh tambahan kebutuhan listrik tiap tahun dipenuhi oleh proyek baru tenaga surya atau angin.

Kondisi ini mengurangi kebutuhan impor batu bara serta gas alam cair (LNG), khususnya di beberapa provinsi pesisir yang sebelumnya bergantung pada bahan bakar tersebut.

Selain itu, kendati China mengimpor minyak dalam jumlah besar, namun berbeda dengan importir Asia lainnya, Beijing menghindari ketergantungan pada satu pemasok. Sebagai perbandingan, Jepang membeli hampir 80% minyaknya dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. China memperoleh porsi serupa dari delapan negara berbeda.

Beijing juga membeli minyak diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran, negara-negara yang terkena sanksi Amerika Serikat sehingga dihindari sebagian besar pembeli.

Sebagian impor tersebut dialirkan ke cadangan strategis minyak yang bersifat rahasia. Ukuran pastinya tidak diketahui, namun bersama stok milik perusahaan kilang komersial, China diperkirakan memiliki cadangan yang cukup untuk menggantikan impor melalui Selat Hormuz selama sekitar tujuh bulan.

Produksi minyak domestik China juga mencapai rekor 4,3 juta barel per hari tahun lalu, setara sekitar 40% dari total impor. Namun cadangan minyak domestik menipis, sehingga kecil kemungkinan China meniru lonjakan minyak serpih seperti yang terjadi di AS.

Menurut Chen Lin, Wakil Presiden lembaga riset migas, Rystad Energy, permintaan minyak China kemungkinan segera mencapai puncaknya.

"Permintaan minyak China kemungkinan mencapai puncaknya tahun ini dan kemudian menurun," katanya."Jadi meskipun porsi impor tetap tinggi, situasinya tidak mungkin memburuk."

Gas alam menjadi cerita berbeda. Produksi domestik meningkat cukup cepat sehingga, bersama impor melalui pipa, China kini mengimpor lebih sedikit LNG dibanding 2020.

Jaringan pipa energi China memungkinkan diversifikasi dari jalur laut dengan pasokan dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar. Rencana ambisius pembangunan pipa baru Rusia-China, Power of Siberia 2, masih membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum selesai.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |