Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu kemarahan di Prancis Kamis (2/4/2026). Ia mengejek Presiden Prancis dan istrinya, meniru aksen Prancis keduanya seraya mengatakan istri Emmanuel Macron "memperlakukannya dengan sangat buruk".
"Serangan" terbaru Trump ke Macron terjadi selama makan siang pribadi, kala ia mengecam sekutu NATO tersebut karena tidak bergabung dalam perang melawan Iran. Bukan hanya pendukung, kritikus Macron juga marah atas ejekan Trump.
"Sejujurnya, itu tidak pantas," kata presiden majelis rendah parlemen Prancis, Yael Braun-Pivet, dikutip AFP.
"Saat ini kita sedang membahas masa depan dunia. Saat ini di Iran, hal ini berdampak pada kehidupan jutaan orang, orang-orang tewas di medan perang, dan kita memiliki presiden yang tertawa, yang mengejek orang lain," katanya kepada laman Franceinfo.
Koordinator partai sayap kiri garis keras France Unbowed, Manuel Bompard, juga membela Macron. Padahal selama ini ia kerap menyindir kebijakan Macron.
"Anda tahu seberapa besar ketidaksepakatan saya dengan presiden, tetapi bagi Donald Trump untuk berbicara kepadanya seperti itu dan berbicara tentang istrinya dengan cara seperti itu. Saya merasa itu sama sekali tidak dapat diterima," kata Bompard kepada stasiun televisi BFMTV.
Sebelumnya, Trump mengejek Macron yang berusia 48 tahun dalam sebuah video yang sempat diunggah di saluran YouTube Gedung Putih sebelum aksesnya diblokir. Ia berujar "kami tidak membutuhkannya, tetapi saya tetap bertanya".
"Saya menghubungi Prancis, Macron, yang istrinya memperlakukannya dengan sangat buruk. Masih dalam masa pemulihan dari pukulan di rahang kanan," kata Trump.
Presiden AS merujuk pada video berita Mei 2025 yang tampaknya menunjukkan Brigitte Macron mendorong wajah presiden Prancis dalam perjalanan ke Vietnam, yang kemudian ditolak Macron sebagai bagian dari kampanye disinformasi. Pada saat itu Macron membantah adanya "perselisihan rumah tangga" dengan istrinya, mengatakan bahwa mereka "bercanda seperti yang sering kami lakukan".
"Dan saya berkata, 'Emmanuel, kami ingin sekali mendapat bantuan di Teluk meskipun kami mencetak rekor dalam melumpuhkan orang jahat dan menghancurkan rudal balistik. Kami ingin sekali mendapat bantuan. Jika Anda bisa, bisakah Anda segera mengirimkan kapal,'" lanjut Trump.
Kemudian ia menirukan aksen Prancis untuk memberikan jawaban Macron. Ia berujar 'Tidak, tidak, tidak, kami tidak bisa melakukan itu, Donald. Kami bisa melakukan itu setelah perang dimenangkan', meniru Macron.
"Saya bilang, 'Tidak, tidak, saya tidak membutuhkan Emmanuel setelah perang dimenangkan,'" ujar Trump lagi.
"Jadi saya belajar tentang NATO. NATO tidak akan ada jika kita pernah mengalami perang besar, Anda tahu apa yang saya maksud dengan perang besar," kata Trump, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Ia juga menyebut NATO sebagai "macan kertas," serangan terbaru dari Trump dan para pejabat tingginya terhadap aliansi transatlantik sejak ia kembali ke Gedung Putih tahun lalu. Sebelumnya Selasa, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS" harus meninjau kembali" hubungannya dengan NATO setelah perang melawan Iran berakhir.
(sef/sef)
Addsource on Google

















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452570/original/017450600_1766406793-IMG_2730_1_.jpeg)