Gara-Gara Trump! AS Kena Getahnya, Krisis Telur Kian Parah

11 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah negara, berpotensi memperburuk krisis pasokan telur di Amerika Serikat. Hal ini sebagaimana disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, 3 April 2025.

Melansir Reuters, Rollins menilai, tarif impor telur sedang dipertimbangkan sebagai bagian dari kebijakan perdagangan terbaru. "Tarif impor mungkin akan diberlakukan. Saat ini, kami masih dalam tahap negosiasi dengan negara-negara yang terdampak," ujarnya, dikutip Jumat (4/4/2025).

Langkah ini muncul sehari setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran yang mendapat kritik tajam dari berbagai kelompok pertanian dan pangan. Kebijakan tersebut dinilai bisa mempersempit pasar bagi petani lokal dan menaikkan harga bagi konsumen.

AS diketahui tengah berupaya keras mengatasi kelangkaan telur akibat wabah flu burung yang telah menewaskan hampir 170 juta unggas sejak tahun 2022. Untuk menstabilkan pasokan, Negeri Paman Sam meningkatkan impor telur dari negara-negara seperti Turki, Brasil, dan Korea Selatan.

Namun, tarif dasar baru sebesar 10% akan dikenakan untuk impor dari Turki dan Brasil, sedangkan Korea Selatan menghadapi tarif hingga 26%, berdasarkan data yang dirilis Gedung Putih.

Kebijakan ini pun menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri. CEO USA Poultry & Egg Export Council, Greg Tyler mengatakan, tarif tersebut akan berdampak langsung pada harga telur olahan di dalam negeri.

"Produsen yang mengimpor telur untuk diolah menjadi produk makanan harus menanggung biaya tambahan atau membebankannya pada konsumen," kata Tyler.

"Anda akan melihat kenaikan harga telur olahan di Amerika Serikat sebagai akibatnya," imbuhnya.

Harga telur sempat turun dari rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Namun, harga grosir tetap melonjak 60% dibanding tahun lalu, mencapai US$3 atau setara dengan Rp49.680 per lusin (asumsi kurs Rp16.560/US$), menurut data dari Departemen Pertanian AS (USDA). Penurunan permintaan dan berkurangnya kasus flu burung telah membantu meredam lonjakan harga, meski hanya sementara.

Mentan AS, Rollins mengakui tarif baru Trump akan menciptakan ketidakpastian dalam jangka pendek. "Saya tidak akan duduk di sini dan berkata, 'Oh, semuanya akan sempurna dan harga akan turun besok,' karena ini adalah waktu yang tidak pasti," tegasnya.

Kebijakan Trump juga mengundang respons dari negara-negara mitra dagang. Pemerintah Brasil mengaku sedang mengevaluasi langkah balasan, sementara Korea Selatan telah memerintahkan dukungan darurat bagi industri yang terdampak.

Analis dari perusahaan pemasok telur Eggs Unlimited, Brian Moscogiuri menjelaskan bahwa impor telur sendiri bukanlah proses murah.

"Telur-telur ini diangkut dengan kapal, kemudian dibongkar secara manual di fasilitas pemrosesan. Biayanya sudah tinggi, dan sekarang ditambah tarif? Itu membuat semuanya jadi lebih mahal," jelasnya.

AS tercatat mengimpor lebih dari 1,6 juta lusin telur ayam konsumsi selama Januari dan Februari tahun ini, sebagian besar dari Turki. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, tidak ada impor sama sekali. Namun, menurut Moscogiuri, Turki kemungkinan tidak akan menjadi pemasok utama di masa depan, mengingat tarif dan wabah flu burung di negaranya sendiri.

Jika kebijakan ini terus berlanjut, para ahli memperingatkan harga telur di AS bisa kembali melonjak, dan konsumen Amerika lah yang akan menanggung beban terberatnya.


(haa/haa)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Telur Dunia Naik-Susunan Komisaris & Direksi BRI Terbaru

Next Article Trump Terpilih Jadi Presiden AS, Nasib Asean Bakal Bersinar

Read Entire Article
Photo View |