Fakta Serangan AS ke Iran: Tujuan Asli Trump-Ledakan Hingga Saudi

5 hours ago 8
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan dimulainya apa yang ia sebut sebagai "operasi tempur besar" (major combat operations) terhadap Negeri Para Mullāh tersebut.

Serangan udara ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi mengenai program nuklir dan rudal balistik Iran. Langkah militer ini menyusul ancaman yang terus meningkat dari Trump selama berminggu-minggu, serta hanya berselang delapan bulan setelah AS dan Israel terlibat perang singkat selama 12 hari melawan Iran.

Tehran Membara dan Target Strategis

Laporan awal menunjukkan bahwa serangan rudal menghantam titik-titik krusial di jantung ibu kota Iran. Menurut kantor berita Fars, beberapa rudal mendarat di kawasan University Street, wilayah Jomhouri, hingga area di dekat markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kantor berita Associated Press juga melaporkan adanya serangan yang terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Selain Tehran, ledakan hebat dilaporkan mengguncang sejumlah kota besar lainnya seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, serta Provinsi Lorestan. Seorang pejabat AS mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa operasi ini merupakan misi gabungan antara militer Israel dan AS. Pentagon sendiri diketahui telah mengerahkan armada jet tempur dan kapal perang dalam skala masif ke kawasan tersebut-mobilisasi militer terbesar AS di Timur Tengah sejak Perang Irak.

Misi Trump: Hancurkan Kekuatan Militer Iran

Dalam pernyataan resminya, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tujuan utama kampanye militer ini adalah untuk melumpuhkan kapabilitas pertahanan Iran secara total.

"Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka dengan tanah," tegas Trump. Ia juga menambahkan komitmennya untuk "memusnahkan" kekuatan angkatan laut Iran.

Lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan memastikan proksi-proksi Iran di kawasan, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Houthi, tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengganggu stabilitas regional maupun global. Trump kembali menekankan bahwa ia tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, meskipun Teheran berulang kali membantah ambisi tersebut.

"Rezim ini akan segera menyadari bahwa tidak ada yang boleh menantang kekuatan dan kehebatan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat," imbuhnya.

Orang-orang menunggu giliran mereka di luar sebuah stasiun pengisian bahan bakar, setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran, di Teheran, Iran, 28 Februari 2026. (West Asia News Agency via REUTERS)Foto: (via REUTERS/Majid Asgaripour)
Orang-orang menunggu giliran mereka di luar sebuah stasiun pengisian bahan bakar, setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran, di Teheran, Iran, 28 Februari 2026. (West Asia News Agency via REUTERS)

Potensi Operasi Jangka Panjang dan Perubahan Rezim

Seorang pejabat Gedung Putih dikutip oleh Reuters menyatakan bahwa pemerintahan Trump merencanakan operasi ini sebagai "operasi multi-hari". Analis politik melihat retorika Trump ini sebagai upaya sistematis untuk memicu perubahan rezim di Iran.

Koresponden Al Jazeera di Washington, Alan Fisher, menilai langkah ini mirip dengan pola penggulingan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh pada tahun 1953, namun kali ini dilakukan secara terbuka melalui kekuatan militer alih-alih operasi intelijen terselubung.

Iran Balas Serang Israel

Menanggapi gempuran tersebut, Iran segera meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal yang ditargetkan ke wilayah utara Israel. Militer Israel mengonfirmasi adanya bunyi sirene peringatan di berbagai penjuru negeri dan suara ledakan akibat intersepsi udara di wilayah utara. Otoritas Israel meminta warga sipil untuk segera mengikuti instruksi Komando Front Dalam Negeri (Home Front Command) demi keselamatan.

Ebrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, melalui media sosial memperingatkan adanya respons yang "menghancurkan" terhadap agresi AS dan Israel.

"Kami sudah memperingatkan kalian! Sekarang kalian telah memulai jalan yang ujungnya tidak lagi berada dalam kendali kalian," tulis Azizi.

Kondisi Pemimpin Iran Masih Simpang Siur

Hingga berita ini diturunkan, keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang berusia 86 tahun, masih belum diketahui secara pasti. Ia dilaporkan belum muncul di publik dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya tensi. Akses jalan menuju kediaman Khamenei di pusat kota Tehran dilaporkan telah ditutup total oleh otoritas keamanan sesaat setelah ledakan terjadi.

Di sisi lain, kantor berita pemerintah IRNA melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian berada dalam kondisi aman dan tidak terluka akibat serangan tersebut. Hingga saat ini, detail mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur secara menyeluruh di kedua belah pihak masih terus diperbarui.

Ledakan di Qatar-Dubai-Saudi

Kantor berita Iran, Fars, menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah membidik titik-titik strategis yang menjadi markas militer AS di wilayah Teluk. Target utama tersebut mencakup Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar yang merupakan pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, serta Pangkalan Udara Al-Dhafra di UEA. Selain itu, pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain juga dilaporkan menjadi sasaran serangan langsung.

Di Dubai dan Abu Dhabi, dua kota utama UEA, rentetan ledakan terdengar di tengah kepulan asap yang membubung ke langit. Akibat situasi keamanan yang memburuk, otoritas penerbangan UEA telah menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil sebagai langkah pencegahan. Langkah serupa juga diambil oleh negara-negara tetangga seperti Qatar dan Kuwait guna menghindari potensi risiko lebih lanjut di jalur penerbangan komersial.

Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa eskalasi ini menyebar dengan cepat ke wilayah lain di Semenanjung Arab. Kantor berita AFP melaporkan adanya suara ledakan keras yang terdengar hingga ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Kata Rusia

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menuding Washington telah menggunakan diplomasi nuklir hanya sebagai kedok untuk meluncurkan operasi militer terhadap Teheran.

Medvedev, yang merupakan sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, menyebut bahwa serangan udara yang dilakukan AS bersama Israel pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan "wajah asli" Gedung Putih. Menurutnya, AS tidak pernah memiliki niat tulus untuk mencapai kesepakatan damai dalam perundingan nuklir yang selama ini berlangsung.

"Sang pembawa damai sekali lagi menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya," tulis Medvedev melalui saluran Telegram resminya, Sabtu sore.

"Semua negosiasi dengan Iran hanyalah operasi penyamaran. Tidak ada yang meragukan itu. Tidak ada yang benar-benar ingin menyepakati apa pun."

(tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |