Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
02 May 2026 21:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa mulai diambang kesulitan regenerasi penduduk disebabkan turunnya angka kelahiran, membuat potensi penurunan jumlah penduduk asli semakin besar.
Populasi Eropa tidak lagi mampu menggantikan dirinya sendiri. Di seluruh benua ini, angka kesuburan telah turun di bawah 2,1 kelahiran per wanita yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat populasi yang stabil dan belum ada negara yang memenuhi ambang batas tersebut hingga 2024.
Berdasarkan data terbaru dari Eurostat, FRED, dan Kantor Statistik Nasional Inggris, Ukraina menjadi yang paling rendah tingkat kesuburannya yakni mencapai 0,99. Beberapa negara terbesar di Eropa kini termasuk di antara negara-negara dengan angka kelahiran terendah, menunjukkan betapa luasnya penurunan tersebut.
Tingkat kelahiran terendah di Eropa terkonsentrasi di wilayah timur dan selatan, di mana tekanan ekonomi dan ketidakstabilan geopolitik telah mempercepat penurunan jangka panjang.
Ukraina mengalami penurunan paling tajam. Tingkat kesuburannya, yang terakhir kali melebihi tingkat penggantian pada 1986, turun menjadi 0,9 pada 2022 sebelum sedikit pulih menjadi 0,99 pada 2024.
Di antara negara-negara Eropa yang cenderung damai, Malta memiliki salah satu tingkat kesuburan terendah yaitu 1,01, diikuti oleh Spanyol 1,1 dan Polandia 1,14.
Tingkat kesuburan yang lebih rendah di negara-negara seperti Spanyol dan Polandia mencerminkan perpaduan tekanan ekonomi, termasuk upah yang lebih rendah dan meningkatnya biaya membesarkan anak, di samping tren yang lebih luas yang terlihat di seluruh negara maju.
Populasi yang menua sudah mulai mengubah prioritas nasional. Saat Polandia berupaya membangun militer yang lebih besar, populasi yang menyusut menghadirkan kerentanan strategis.
Tren ini meluas di seluruh benua Eropa. Ekonomi terbesar di Eropa, termasuk Jerman kini tingkat kesuburuannya mencapai 1,36, Inggris (1,41), Prancis (1,61), dan Italia (1,18). Semuanya masih jauh di bawah tingkat kesuburan.
Bahkan negara-negara dengan tingkat fertilitas yang relatif lebih tinggi, seperti Bulgaria (1,72) dan Montenegro (1,75), tidak menghasilkan kelahiran yang cukup untuk menstabilkan populasi mereka.
Salah satu responsnya adalah peningkatan imigrasi. Di Jerman, kebijakan migrasi pada pertengahan 2010-an, sebagian dibentuk oleh kebutuhan untuk mendukung sistem tenaga kerja negara tersebut. Namun, pendekatan ini juga memicu reaksi politik dan munculnya partai-partai anti-imigrasi.
Insentif Keluarga Sebagai Solusi?
Beberapa negara Eropa berupaya meningkatkan angka kelahiran melalui insentif keuangan. Prancis, Hongaria, dan Polandia telah memperkenalkan kredit pajak, subsidi, dan program lain yang bertujuan untuk mendorong keluarga dengan jumlah anak yang lebih banyak.
Hongaria misalnya, telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk memperluas tunjangan bagi pasangan muda, dengan tujuan mencapai tingkat penggantian 2,1 pada 2030.
Sejauh ini, hasilnya masih terbatas. Tingkat kesuburan Hungaria sebesar 1,41, mirip dengan negara-negara seperti Inggris dan Portugal, menunjukkan insentif finansial saja mungkin tidak akan mampu membalikkan tren yang lebih luas.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)
Addsource on Google






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469088/original/050162300_1768056820-photo-grid_-_2026-01-10T214641.503.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470160/original/093473700_1768198487-Web_Photo_Editor__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471422/original/000633700_1768286512-IMG_3417_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468304/original/037132200_1767946563-SnapInsta.to_610749735_18549996940061415_8535549228643964214_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470425/original/077219800_1768205094-IMG_3373_1_.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466588/original/088902800_1767849017-downloadgram.org_332402203_1591030664710492_5944447955525017518_n.jpg)