Dulu Mendukung, Kini Menolak: Sikap Warga AS terhadap Perang Berubah

3 hours ago 5

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

02 March 2026 14:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Amerika Serikat menunjukkan pergeseran tajam dalam pandangan terhadap keterlibatan militer negaranya di luar negeri selama lebih dari satu abad.

Dukungan yang kuat terjadi pada Perang Dunia I dan II, tetapi skeptisme mulai muncul untuk intervensi militer AS pada konflik di Irak, Afghanistan, Venezuela, dan Iran.

Dua Kubu Politik, Dua Narasi Berbeda

Hasil survei terbaru YouGov terhadap 1.097 orang dewasa Amerika Serikat menunjukkan perbedaan tajam antara pendukung partai Republik dan Demokrat dalam menilai apakah suatu intervensi militer merupakan keputusan yang tepat sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Intervensi terbaru seperti operasi untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 2025 menunjukkan perbedaan ekstrem sekitar 70,4% pemilih Republik menyebutnya keputusan yang benar, sementara hanya 7,4% dari Demokrat yang sepaham. Dukungan di kalangan independen pun rendah (20%).

Serangan udara AS ke situs nuklir Iran juga mendapat dukungan mayoritas dari Republik (74,2%) tetapi sangat rendah dari Demokrat (17,4%).

Ini mencerminkan bagaimana isu perang dan intervensi luar negeri sekarang menjadi titik perpecahan politik domestik. Hal ini kemudian menjadi bagian dari perdebatan ideologis yang lebih luas tentang peran Amerika di dunia.

Sepanjang Sejarah: Dari Dunia I Hingga Era Modern

Secara historis, konflik besar seperti Perang Dunia I dan II masih mendapatkan dukungan relatif luas dari semua kelompok.

Untuk Perang Dunia I, dukungan berkisar antara 52% hingga 67%, tergantung afiliasi partai. Sedangkan untuk Perang Dunia II, dukungan melonjak hingga 68%-75% di semua kubu.

Namun, setelah Perang Dunia II, dukungan publik berangsur turun pada konflik yang lebih kontroversial, seperti Perang Vietnam (1955-1975) yang hanya mendapat dukungan mayoritas kecil, terutama dari Republik.

Perang Irak (2003-2011) dan Perang Afghanistan (2001-2021) bahkan melihat tingkat dukungan yang jauh lebih rendah dibanding masa Perang Dunia, dengan independen dan Demokrat cenderung skeptis atau menolak.

Pada konflik yang berlangsung lama seperti Perang Saudara Suriah atau keterlibatan di Yaman, semua kelompok menunjukkan tingkat dukungan rendah, meskipun Republik tetap cenderung lebih pro-intervensi dibanding kelompok lain.

Mengapa Publik Semakin Skeptis?

Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan pandangan ini mencakup:

1. Pengalaman sejarah pahit: Perang Vietnam masih menjadi simbol kegagalan militer yang meninggalkan trauma sosial yang panjang dan keengganan untuk perang lagi (Vietnam Syndrome).

2. Hasil konflik yang ambigu: Setelah Afghanistan dan Irak, banyak warga yang menilai bahwa tujuan jangka panjang kurang jelas sementara biayanya sangat besar. Biaya yang harus dibayarkan termasuk nyawa maupun ekonomi.

3. Politik domestik yang mempolarisasi: Selama dua dekade terakhir, sikap pro atau kontra terhadap intervensi seringkali dipengaruhi lebih oleh afiliasi partai daripada evaluasi independen terhadap ancaman atau manfaat nyata.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Photo View |