Dorong Kemandirian di Sektor Kesehatan, RI Butuh Hal Ini

3 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Biofarma (Persero), Shadiq Akasya menyadari bahwa industri farmasi nasional masih dihadapkan oleh sejumlah tantangan, salah satunya berupa supply bahan baku.

Bahkan ia mengatakan, untuk vaksin saja masih ada beberapa bahan baku yang perlu diimpor dari luar negeri.

"Satu adalah sumber supply dari bahan, dan ini adalah quality. Nah memang kita ini sekarang sebagian mungkin benar yang dikatakan itu kita masih ada ketergantungan. Kenapa? Ini industri hulu itu mulai dari R&D. R&D kita harusnya sih bisa lebih maju lagi ya, karena vaksin itu diproduksi bermacam-macam, mulai dari seed-nya kita harus mencari juga, itu adalah bibitnya. Itu melalui penelitian-penelitian," ujar dia dalam Health Forum dengan tema "BPOM Raih Status WLA, Apa Untungnya Bagi Pelaku Usaha?", ditulis Senin (2/3/2026).

Shadiq bilang, Biofarma sendiri menjalin kerja sama dengan lembaga riset internasional maupun universitas untuk mendapatkan bibit vaksin. Nantinya, bibit tersebut akan dikembangkan menjadi vaksin oleh Biofarma.

Selanjutnya, pembuatan vaksin ini juga memerlukan media yang sebagian masih diimpor dari luar negeri. Tak hanya media, vaksin juga membutuhkan pelarut atau pengisi cairan (adjuvan) yang masih perlu diimpor dari luar negeri.

Maka dari itu, lanjut dia, ke depannya harus ada kerja sama lintas sektoral untuk mencapai kemandirian industri kesehatan baik di hulu maupun di hilir.

"Nah hulunya kita masih perlu effort yang lebih kuat lagi. Kalau hilirnya seperti kami mungkin sekarang sudah bisa memproduksi kurang lebih sekitar ada sampai dengan 20 antigen yang ada di kami dan kita juga sudah mengekspor sampai ke 150 negara di dunia yang digunakan. Jadi mungkin itu adalah hilirnya," terang dia.

Sedangkan penguatan sektor hulu di industri kesehatan adalah melalui ketersediaan bahan baku di dalam negeri.

Di samping itu, status WHO Listed Authority (WLA) dari World Health Organization (WHO) yang diraih Badan Pengawas Obat-Obatan dan Makanan (BPOM) RI turut membantu produk-produk Biofarma lebih dipercaya.

Dahulu, Biofarma biasanya mengacu pada Prequalification WHO (PQWHO) yang tergolong kaku. Namun, seiring mendapatkan status WLA, maka persyaratannya menjadi lebih mudah lantaran standarnya sudah mendekati yang ditetapkan WHO.

Pada akhirnya, hulu dan hilir daripada industri kesehatan nasional tidak akan lepas dari pengawasan BPOM. Sebagai contoh, nanti bibit vaksin yang melewati praklinis dan clinical trial akan diawasi oleh BPOM.

Dirinya mengatakan, sebagai bagian daripada rantai pasok untuk pengadaan vaksin, Biofarma akan mengoptimalkan pengembangan vaksin polio. Tak berhenti disitu, Biofarma berharap bukan hanya vaksin polio yang dieskpor oleh perusahaan tersebut.

"Seandainya nanti ada produk-produk vaksin yang baru dengan adanya WLA ini orang akan lebih percaya kepada Indonesia termasuk produknya dari Biofarma yang selama ini PQWHO mungkin apakah nanti dengan bilateral seperti itu antara G2G atau B2G bisa dilakukan secara langsung dan ini menjadikan rantai pasok dunia itu bisa lebih mudah terpenuhi," katanya.

Di sisi lain, ia berharap Biofarma bukan hanya satu-satunya perusahaan farmasi di Indonesia yang merasakan manfaat dari status WLA. Untuk itu, Shadiq memandang status WLA akan bermanfaat bagi seluruh ekosistem industri kesehatan nasional.

(dpu/dpu)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Photo View |