Jakarta, CNBC Indonesia - Industri minuman ringan siap saji nasional masih menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional seiring kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja hingga penopang sektor UMKM dan pedagang ritel. Namun, memasuki tahun 2026, sejumlah tantangan besar dihadapi oleh para pelaku industri minuman ringan siap saji di Tanah Air.
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo menuturkan, volume pertumbuhan industri minuman siap saji di Indonesia mengalami kontraksi atau menurun sekitar 0,5% pada 2025 lalu. Angka ini sebenarnya membaik dibandingkan periode sebelumnya, di mana pertumbuhan industri minuman siap saji nasional sempat turun 2%-3% antara 2023 dan 2024.
Kendati begitu, saat ini belum bisa dikatakan industri minuman saji Indonesia telah stabil. Terlebih lagi, jika produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tidak dihitung, maka volume penjualan industri minuman siap saji nasional secara keseluruhan bakal anjlok sekitar 11%. Hal ini dapat terjadi lantaran AMDK memiliki kontribusi mencapai kisaran 60%-70% dari total volume industri minuman siap saji nasional.
Ditambahkan, ada pertumbuhan positif volume penjualan industri minuman siap saji nasional selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026 sekitar 2%. Meski kenaikan tersebut tidak merata di seluruh kategori produk. Dalam hal ini, produk kategori minuman rendah kalori atau tanpa kalori dapat melonjak 28% selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026.
"Ini juga menunjukkan bahwa bagaimana sebenarnya ada perubahan shifting dari sisi preferensi masyarakat untuk mencari yang lebih baik, lebih sehat, sehingga itu mungkin masyarakat mulai memilih produk-produk yang lebih cocok dengan gaya hidup mereka," ungkap dia dalam acara konferensi pers Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Namun, industri minuman siap saji masih menghadapi tekanan berat.
Pelemahan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, cukup memengaruhi kinerja industri tersebut. Apalagi, produk minuman siap saji, khususnya di luar AMDK, bukan termasuk produk kebutuhan primer.
Di samping itu, pelemahan kurs rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi pukulan bagi para pelaku usaha minuman siap saji nasional. Mengingat, pelemahan kurs bisa menimbulkan efek lanjutan seperti inflasi hingga kenaikan biaya logistik.
"Logistik dan energi ini adalah tantangan industri ke depan. Kita tahu logistik naik, energi ini BBM. Saya ngak tahu berapa lama bisa ditahan mudah-mudahan. Saya ngebayang saja kalau sampai BBM dilepas naik, kita mungkin akan inflasinya bisa gila-gilaan," terang dia.
Tak hanya itu, rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) juga menjadi perhatian bagi pelaku usaha di sektor minuman siap saji. Meski begitu, ASRIM mengapresiasi langkah pemerintah yang menunda rencana tersebut, mengingat pemerintah ingin melihat pertumbuhan industri terlebih dahulu.
Terkait kondisi ekonomi, Peneliti Senior, Senior of Reform on Economics/CORE, Mohammad Ishak Razak menilai, pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh belanja pemerintah. Namun, daya tahan pertumbuhan tersebut berpotensi melemah jika ruang fiskal pemerintah semakin terbatas akibat peningkatan beban subsidi energi.
Dia juga menyoroti masalah daya beli masyarakat, di mana terdapat tren penurunan kelas menengah, perlambatan upah riil, dan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman konsumtif. Kondisi ini bisa saja mempengaruhi permintaan masyarakat terhadap produk-produk dari industri, termasuk minuman siap saji.
"Tadi kelas menengah itu kan declining secara persisten dan menurut kami kalau ini dibiarkan maka daya beli, artinya kan daya beli masyarakat ini ditopang oleh masyarakat calon kelas menengah, rentan, miskin, dan seterusnya. Kalau kelas menengah ini turun, efeknya adalah kualitas belanja mereka akan belanja di masyarakat akan turun," kata dia dalam acara yang sama.
Pemerintah Bisa Apa?
Sementara itu, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Merriantij Punguan Pintaria mengatakan, industri minuman siap saji atau minuman ringan tetap memiliki peran besar terhadap ekonomi nasional.
Kemenperin mencatat saat ini terdapat sekitar 126 unit industri minuman ringan dengan kapasitas produksi mencapai 15,5 miliar liter per tahun dan mampu menyerap lebih dari 22.000 tenaga kerja langsung. Sektor ini juga dapat menciptakan efek berganda bagi sektor lainnya seperti transportasi, ritel, kemasan, serta industri pendukung lainnya.
Untuk meningkatkan daya saing industri minuman ringan, pemerintah khususnya Kemenperin terus melaksanakan program pengembangan industri yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan produktivitas, efisiensi proses produksi, penguatan investasi, dan penerapan praktik industri yang berkelanjutan.
Untuk itu, pemerintah menyediakan berbagai fasilitas fiskal dan non-fiskal, antara lain super deduction tax dan pembebasan biaya masuk impor barang modal dalam rangka investasi.
Selain itu, program yang telah dijalankan pemerintah pada 2026 adalah restrukturisasi mesin dan/atau peralatan industri yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 40 Tahun 2024.
"Ini adalah program penggantian sebagian dari biaya pembelian mesin dan/atau peralatan. Program ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan teknologi produksi yang lebih efisien," pungkas dia.
Konferensi pers bertajuk Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi dihadiri Triyono Prijosoesilo - Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) (kiri), Merrijantij Punguan Pintaria- Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (tengah), Mohammad Ishak Razak - Peneliti Senior, Center of Reform on Economics/CORE (kanan). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: Konferensi pers bertajuk Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026 : Inovasi, Pertumbuhan dan Inovasi dihadiri Triyono Prijosoesilo - Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) (kiri), Merrijantij Punguan Pintaria- Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (tengah), Mohammad Ishak Razak - Peneliti Senior, Center of Reform on Economics/CORE (kanan). (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia)
(dce)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501953/original/051963100_1770963638-collage-1770963016593.png)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504391/original/040889300_1771234034-WhatsApp_Image_2026-02-16_at_16.07.54__1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503685/original/018522300_1771207869-IMG_5126_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494769/original/017852300_1770340983-IMG_4607_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495267/original/070964000_1770362176-collage-1770361735577.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496238/original/049857200_1770516142-SnapInsta.to_628251077_18560930053012162_3184567118963434244_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517799/original/038484000_1772439698-IMG_5502_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503831/original/023595600_1771213974-collage-1771213135093.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504902/original/070313200_1771311556-collage-1771310149668.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509795/original/044438600_1771758038-SnapInsta.to_639517660_18514687228077855_7982472988900909272_n.jpg)